Panglima TNI: Teroris di Indonesia, Dana Paling Besar Adalah dari Australia dan Malaysia

Kamis, 24 November 2016 11:05 WIB
JAKARTA - Belakangan ini Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo semakin sering muncul di hadapan publik. Bersama Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian, Jenderal Gatot sibuk membantu Presiden Joko Widodo mengendalikan situasi nasional saat suhu politik memanas. Beberapa kali Jenderal Gatot terlihat ada di antara ulama untuk melakukan pendekatan persuasif dengan dalih menjaga kesatuan NKRI.

Kesibukan Gatot bukan hanya itu. Sepekan terakhir Jenderal Gatot mulai masuk kampus. Dengan seragam militer lengkap dan bintang empat di pundaknya, Gatot berbicara di hadapan para mahasiswa.

Pada Rabu (16/11), Jenderal Gatot memberikan kuliah umum di hadapan mahasiswa di Balai Sidang Universitas Indonesia (UI), Depok. Ini kali pertama Gatot memberikan kuliah umum.

Ads
Sepekan kemudian, tepatnya Rabu (24/11), Jenderal Gatot memberikan kuliah umum di raha Sanusi Universitas Padjadjaran (Unpad), Bandung.

Di dalam lingkungan kampus, Jenderal Gatot membawa pesan sekaligus peringatan kepada para mahasiswa bahwa Indonesia berada dalam ancaman besar yang harus diwaspadai. Tidak hanya itu, Jenderal Gatot juga membawa pesan damai yang harus dipegang teguh mahasiswa.

Pertama, soal ancaman yang membayangi Indonesia. Penambahan pasukan Amerika di pangkalan Darwin, Australia, perlu diwaspadai Indonesia. DI Darwin sudah ada 1.500 pasukan AS dan akan ditingkatkan menjadi 2.500 pasukan.

Pulau terluar Indonesia harus mendapat pengawasan. Misalnya Pulau Masela, Pulau Saumlaki dan Selaru. Mengingat jarak antara Darwin dan pulau Masela hanya 90 kilometer. Dia mempertanyakan mengapa ada pasukan marinir di pangkalan tersebut. Mengingat Australia adalah negara kontinental.

"Sebagai Panglima TNI saya melihat itu sebagai ancaman," tegas Jenderal Gatot di UI.

Ancaman kedua soal terorisme. Lagi-lagi negara asing dituding sebagai bagian dari tumbuh kembang benih terorisme di Indonesia. Australia sebagai penyumbang dana terbesar bagi teroris di Indonesia. Selain itu, Malaysia, Brunei Darussalam dan Filipina juga dituding sebagai donatur aksi terorisme.

"Teroris di Indonesia dana paling besar adalah dari Australia, Malaysia, Brunei Darussalam dan Filipina," ungkapnya.

Negara asing juga dituding mencoba memecah belah persatuan Indonesia. Caranya dengan menyebar berita provokasi, kabar bohong. Ini diketahui massif dilakukan belakangan ini saat gencar aksi demo menuntut proses hukum terhadap Ahok.

"Setelah ditelusuri intelijen, ternyata yang nyebar adalah dari Australia dan dari Amerika. Ternyata bukan dari dalam. Tujuannya tidak lain untuk memecah belah," ujar Gatot di Universitas Padjadjaran, Bandung.

Hal itu menjadi bukti nyata yang jelas bahwa negara tengah diincar negara-negara lain dalam hal penguasaan sumber daya alam, energi dan ekonomi.

"Kita harus waspada, bukan tidak mungkin negara lain akan menjadikan Indonesia sebagai Arab Springs, namun kekuatan Bhinneka Tunggal Ika tetap menjadi pemersatu agar Indonesia tidak terpecah belah oleh siapapun yang hendak merusak persatuan Indonesia," jelasnya.(mdk)

Editor:wawan k
Sumber:merdeka.com
Kategori:SerbaSerbi
wwwwww