Bos BNI: Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Terbesar Ketiga di G20

Bos BNI: Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Terbesar Ketiga di G20
Pertumbuhan ekonomi Indonesia diklaim terbesar ketiga di negara-negara G20. Foto/Ilustrasi
Kamis, 24 November 2016 10:58 WIB
JAKARTA - Direktur Utama PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk Ahmad Baiquni mengemukakan, pertumbuhan ekonomi Indonesia saat ini relatif lebih baik dibanding negara lain. Bahkan, dia mengklaim pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) di Tanah Air merupakan terbesar ketiga dibanding negara-negara G20.Dia mengatakan, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal III 2016 mencapai 5,02%. Dibanding negara-negara G20 lainnya, pertumbuhan ekonomi Indonesia hanya kalah dibanding China dan India.

"‎Kondisi ini juga relatif lebih baik dibandingkan kondisi 2015 yang tumbuh sebesar 4,79%. Kinerja makro ekonomi seyogyanya patut diapresiasi, karena diantara negara-negara G20, Indonesia tercatat sebagai negara dengan pertumbuhan GDP terbesar ketiga. Hanya persis di bawah China dan India," katanya dalam acara CEO Forum 2016 di Jakarta Convention Center, Kamis (24/11/2016).

Kendati demikian, kata dia, Indonesia jangan dulu membusungkan dada dengan prestasi pertumbuhan ekonomi tersebut. Karena, jika dibanding dua negara di ASEAN yaitu Vietnam dan Filipina, pertumbuhan ekonomi di Indonesia relatif masih tertinggal.

"‎Padahal kedua negara tersebut memiliki struktur ekonomi, kedekatan geografis, dan kemiripan budaya dengan Indonesia. Tentunya ini menjadi tantangan tersendiri, apalagi Presiden telah menetapkan pertumbuhan ekonomi yang optimis sebesar 7% untuk dicapai di 2018-2019," imbuh dia.

Menurutnya, kondisi tersebut menunjukkan bahwa fundamental ekonomi nasional belum mampu memanfaatkan seluruh potensinya dengan maksimal. Salah satunya potensi investasi di Tanah Air yang belum dimanfaatkan secara maksimal.

Baiquni menilai, ‎meningkatkan iklim investasi di Tanah Air merupakan suatu keharusan. Sebab investasi menjadi salah satu pendongkrak pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan, menurunkan angka pengangguran dan meningkatkan kesejahteraan.

"‎Tapi permasalahan sektor riil memang cukup kompleks. Makanya pemerintah dalam RPJMN mengindentifikasi permasalahan sektor riil, mulai dari ekspor yang masih didominasi barang mentah dan ketergantungan impor untuk domestik. Hingga penyebaran ekonomi yang tidak merata karena terkonsentrasi di Jawa dan Sumatra saja," tandasnya. 

Ads
Editor:Kamal Usandi
Sumber:sindonews.com
Kategori:SerbaSerbi
wwwwww