Candaan Teman Kelewat Batas, Murid Madrasah Ini Terpaksa Operasi Kelamin hingga Nyaris Impoten

Candaan Teman Kelewat Batas, Murid Madrasah Ini Terpaksa Operasi Kelamin hingga Nyaris Impoten
Surat medis siswa korban kekerasan di sekolah. (foto: merdeka.com/purnomo edi)
Minggu, 13 November 2016 09:05 WIB
YOGYAKARTA - Bocah berinisial JAT (8) mengalami sakit serius hingga nyaris impotensi, lantaran candaan yang dilakukan teman-temannya kelewat batas hingga diduga berujung tindak kekerasan. Siswa kelas dua Madrasah Ibtidaiyah (MI) di Sumberdadi, Kecamatan Mlati, Sleman DIY, tersebut bahkan harus menjalani operasi kelamin.Menurut ayahnya, Ulu Alan Surengga, JAT mengalami beberapa kekerasan sebelum akhirnya operasi alat kelamin. Kekerasan yang terjadi salah satunya dialami pada Kamis, (20/10/2016) yang lalu.

Ulu menceritakan, sepulang dari sekolah, JAT mengeluhkan sakit di kelamin. Ketika buang air kecil, alat kelamin JAT mengeluarkan darah. Ulu pun segera membawa JAT ke RS UGM.

"Sebelum ke RS UGM, anak saya lebih dulu saya bawa ke dokter. Lalu disarankan ke RS," ujar Ulu di kantor Jogja Police Watch (JPW), Rabu (09/11/2016).

Ads
Ulu mengatakan bahwa anaknya diduga mengalami tindak kekerasan yang dilakukan teman sekolahnya yang berinisial Df. Di sekolah JAT, Df sering mendapatkan sorotan dari pihak sekolah.

Ulu pun kemudian mendatangi sekolah JAT sehari setelah kejadian di Kamis (20/10). Dari kedatangannya ke sekolah, diketahui ada sejumlah anak selain Df yang melakukan kekerasan pada JAT. Di antaranya ada Nd dan Dn.

Belum selesai masalah itu, JAT kembali mendapat kekerasan dari teman sekolahnya pada Senin (31/10). Akibat kembali mengalami kekerasan itu, JAT dibawa ke RS Panti Rapih untuk menjalani operasi alat vitalnya. JAT menjalani operasi menjelang pukul 19.00 WIB.

"Sesudah operasi, dokter mengatakan anak saya ada luka yang menyumbat saluran kencing dan itu teratasi. Kata dokternya, terlambat sedikit saja, anak bapak bisa impoten," katanya.

Dia menambahkan, menjelang operasi, tak satu pun perwakilan sekolah yang datang mendampingi. Saat operasi berlangsung, baru kemudian perwakilan sekolah mendatangi rumah sakit.

"Kami minta pihak sekolah tanggung jawab. Anak saya sudah cacat," ungkapnya.

Keluarga korban sempat mendatangi Kepolisian. Saat itu, mereka belum bermaksud membuat laporan, hanya sekadar konsultasi.

Selain berkonsultasi kepada polisi, keluarga korban juga meminta bantuan hukum kepada JPW. Juru bicara JPW, Baharudin Kamba mengutarakan akan memberikan bantuan.

Dikonfirmasi terpisah, Mustofa, guru MI mengatakan tak mengetahui secara rinci peristiwa yang dialami JAT. Menurut dia, anak-anak sekolah memang biasa bermain namun dianggap lebih. "Setahu kami, anak bermain memang saat itu," kata dia.

Dia juga mengungkapkan telah mengupayakan mediasi dalam kasus itu. Meskipun, para orang tua belum bisa langsung dipertemukan.

"Biaya operasi (JAT) juga sudah ditanggung sekolah. Semula Rp 13 jutaan, jadi Rp 10 jutaan," ungkapnya.

Sementara Kepala Sekolah MI, Sholikah Mukminah mengatakan sekolahnya sempat didatangi sejumlah anggota Kepolisian beberapa waktu lalu. Dia menyebut, polisi menanyakan seputar peristiwa yang dialami siswa berinisial JAT.

"Polisinya nanya-nanya waktu itu," ujarnya melalui sambungan telepon.

Kendati demikian, Sholilah masih enggan berkomentar apabila permasalahan kekerasan yang dialami JAT itu diselesaikan lewat jalur hukum.(mdk)

Editor:wawan k
Sumber:merdeka.com
Kategori:SerbaSerbi
wwwwww