Kalahkan Ketakutan, Harus Dilawan

Kalahkan Ketakutan, Harus Dilawan
Suasana aksi 4 November (foto bagus santoso)
Sabtu, 05 November 2016 10:31 WIB
Penulis: Bagus Santoso
RASA takut itu mengubah menjadi energi pemberani. Aku bersama isteri dan anak- anakku menabalkan niat untuk berangkat ke Jakarta. Dengan satu tekad gabung aksi bela Islam, apapun terjadi. Kekuatan ini muncul, setelah aku yakini bahwa perasaan khawatir dan takut akan terus menghantui. mengusir rasa takut itu tidak ada jalan lain kecuali harus dilawan.Jelang Jumat aku ajak si bungsu Bimo menuju Masjid Istiqlal. Nona Isteriku dan putri Brillian tidak aku ajak , berdua tinggal di salah satu penginapan. Tugasnya berdoa dan mempersiapkan segala sesuatu jika terjadi sesuatu hal yang yang sudah menjadi takdir Tuhan.

Seusai sholat dhuha, jam 9.30 pagi menjelang siang. Jalanan tempat aku sekeluarga menginap di kawasan Tanjung Duren yang biasanya macet tumben lengang. Aku sengaja memilih Grab sepeda motor karena mobil tidak mencari penumpang.

Berboncengan, anakku Bimo aku kempit ditengah. Sepanjang jalanan lengang, mall dan pertokoan banyak yang tutup. Baru setelah 3 kilometer jelang masjid Istiqlal macet total.

Ads
Di kanan kiri jalan terlihat barisan jamaah rata-rata memakai peci, baju koko dan bersorban memadati jalanan. Beruntung aku pakai Grab sepeda motor, bisa menyelusup di pinggiran jalan kadang naik ke trotoar, berhenti, berbelok- belok ke gang kecil.

Bus- bus berjajar rapi disepanjang jalanan. Ruas jalanpun menjadi sempit. Aktifitas massa sudah membludak. Ucapan salam saling tegur sapa dan pekikan takbir Allah Akbar menggema bersahut- sahutan.

Padatnya massa untuk lewat jalan depan Masjid Istiqlal sangat sulit. Sambil menahan panas terpaksa sepeda motor merayap membelok ke arah pasar baru. Si Bimo kehausan minta minum. Di Pasar meski sudah pukul 10.25 masih lengang pertokoan juga masih tutup.

Setelah istirahat sejenak dan minum, aku lanjutkan perjalanan ke Masjid Istiqlal. Dengan susah payah akhirnya sampai di depan jalan utama halaman Masjid dengan jalan kaki. Karena kendaraan sudah sesak padat.

Riuh rendah gema takbir bercampur deru derap langkah ribuan jamaah menggetarkan jiwa. Spanduk dan berbagai coretan di kertas karton beraneka warna dan tulisan. Kibaran bendera kain hitam tulisan Lailahaillalah berkibar- kibar.

Di halaman depan jalan utama menuju masjid terbentang spanduk jamaah Riau . Ada tulisan; Kami Masyarakat Riau dukung fatwa MUI, sampai mati kami kawal # Tangkap Ahok, # Penjarakan Ahok, # Basmi Ahok. Serta tulisan lain yang bernada himbauan.

Aku dan Bimo bersusah payah masuk masjid, Alhamdulilah bisa masuk ke dalam. Perjuangan masuk masjid pada aksi bela Islam ini mengingatkan peristiwa ibadah haji ketika melaksanakan tawaf di Masjidil Haram.

Setelah di dalam tidak ada ruangan yang lowong. Aku menuntun Bimo berniat ke lantai atas. Tapi sekali lagi sesaknya minta ampun. Aku menyerah lalu berkeliling mencari jalan keluar. Hawa panas lantai bawah Masjid memeras keringat. Akhirnya dapat jalan keluar di sisi barat tepatnya di sudut bawah tempat Imam Masjid.

Seperti keluar dari gua, lega menghirup udara dan melihat sinar matahari. Sambil berjalan dari arah barat le timur sisi masjid bagian utara sudah penuh jamaah. Di dekat taman ruang hijau yang berbatasan dengan kanal jamaah sudah membentuk shaf.

Praktis tidak bisa lagi dilalui, sebagian jamaah sudah ada yang menunaikan sholat sunat. Sebagian lain masih mondar- mandir sambil berteriak Allahu Akbar tanpa henti. Tiba- tiba Bimo tertarik untuk bergabung dengan remaja bersorban dan membawa bendera panji- panji Islam bertuliskan Lailahaillallah. Bimo diberi kertas karton warna hijau bertuliskan ''Tangkap Ahok, basmi Ahok''. Aku sempat mengabadikan aksi Bimo ketika diajak gabung.

Karena tidak ada tempat lowong, bersama Bimo dan ramai jamaah lainnya bertahan diluar pintu masjid yang digunakan akses pintu masuk Imam dan pejabat negara. Banyak tokoh yang datang dan dikawal laskar Islam, tentara dan polisi. Terakir jelang sholat jumat tokoh Islam Aa Gym juga lewat dan sempat aku jepret lewat iphone.

Ada sifat keramahan dan saling tolong menolong pada aksi bela Islam jilid 2 ini. Para pedagang asongan turut membagikan roti dan minuman secara gratis. Disepanjang saya lewat pergi dan halaman parkir juga banyak ibu- ibu yang memberikan nasi bungkus gratis. Sebuah pemandangan yang nyaris gak akan ada di hari- hari biasa.

Sholat jumat telah dimulai, banyak jamaah yang berwudhu dengan memakai satu botol air mineral tersedia disetiap tempat. Panitia Masiid atau donatur dengan suka rela memberikan air mineral untuk wudhu. Masjid Istiqlal adalah terbesar ketiga sedunia setelah Masjidil Haram dan masjid Nabawi seakan tak mampu menampung mungkin setengah juta jamaah.

Begitupun tempat wudhu, dan toilet harus antri panjang. Padahal menurut pengurus masjid istiqlal sudah dilengkapi dengan 600 buah keran air. Dapat dibayangkan bagaimana panjangnya antrian jamaah. Karena situasi darurat jamaah dianjurkan berwudhu dengan sebotol air mineral.

Dalam khutbahnya Imam besar Masjid Istiqlal Prof DR Nasaruddin Umar mengatakan bagi umat islam Al- quran adalah kebenaran sejati dan sekaligus menjadi pandangan hidupnya. Maka seperti umat agama lain, maka wajar kalau umat islam tersinggung jika ada orang yang sengaja mendesakralisasi, apalagi jelas- jelas menghina kitab suci Al-quran.

Seakan meneguhkan kepada jamaah, khutbah imam masjid besar ini kalau dihubungkan dengan situasi dan kondisi terkini yang dihadapi muslim Indonesia atas kasus Ahok. Seusai sholat jumat jamaah juga mendapatkan pengarahan dari tokoh dan pemuka agama disambut gegap gempita takbir dan yel yel semangat perjuangan Islam.

Akhirnya ratusan ribu jamaah seusai sholat jumat, melakukan gerakan aksi bela Islam. Sama dengan ketika masuk, untuk keluar masjid juga dibutuhkan perjuangan berat.

Akibat membludaknya jamaah membutuhkan waktu berjam- jam. Sempat terhalang 3 mobil parkir di jalan keluar, namun setelah diultimatum dengan beringsut - ingsut mobil itu bisa dipindahkan.

Sesak dan lamanya untuk keluar dari kawasan Masjid membuat jamaah harus sabar. Tetap juga ada yang rela memanjat pagar masjid. Termasuk saya dan anakku Bimo dibantu oleh serombongan remaja bersorban - Alhamdulilah berhasil.

Aksi bela Islam terus sampai malam hari. Barisan jamaah Islam dari luar daerah ; Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Jawa Tengah, Jawa Barat Madura dan diyakini dari semua provinsi se Indonesia terutama dari Jakarta terus berkobar. Menuntut Presiden turun tangan dan tegas terhadap kasus dugaan penistaan Islam yang dilakukan Ahok. Calon petahana Gubernur DKI Jalarta.

Hari ini, Sabtu (5/11) pukul 7.30 pagi, saya sekeluarga sengaja lewat dan menyambangi ke depan gedung DPR RI. Aksi bela Islam hari pertama ini memberikan kelegaan bagi saya, isteri dan anak- anakku. Demontrasi berjalan damai tidak anarkis. Terdengar takbir dan ucapan bahwa gerakan pembela Islam tidak akan terhenti sampai perjuangan berhasil. Semoga Allah mengabulkan. Amin. Allahu Akbar ***

Jakarta, 5 November 2016

* Bagus Santoso, Warga Riau berdomisili di Pekanbaru.

Kategori:SerbaSerbi
wwwwww