Liputan Khusus Religi

Darul Ulumuddiniyah, Pesantren Tertua di Abdya Yang Terus Berkiprah

Darul Ulumuddiniyah, Pesantren Tertua di Abdya Yang Terus Berkiprah
Komplek Dayah Ulummudiniyah di Desa Rambong Kecamatan Setia Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya).
Kamis, 03 November 2016 08:33 WIB
Penulis: Teuku Nizar

BLANG PIDIE – Pesantren/Dayah dalam eskistensinya, sangat berpengaruh dalam meningkatkan pendidikan masyarakat, baik terhadap anak-anak maupun orang dewasa. Salah satunya, Dayah Darul Ulumuddiniyah yang berlokasi di Desa Rambong Kecamatan Setia Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya).

Dayah Darul Ulumuddiniyah ini didirikan oleh Alm. Abuya Syekh H Muhammad Yatim Bin Murabbi Al-Khalidy tahun 1852,  kini dijalankan oleh putranya, Syeh H Abdussalam Ghaliby terus memberikan pengaruhnya ditengah-tengah masyarakat. 

Syekh H. Muhammad Yatim bin Murabby Al-Khalidy merupakan tamatan madrasah Darul Ulumuddiniyah cabang Mekkah Mukarramah pada tahun 1372 H / 1952 M.  (Dari thn 1372 H s/d thn 1408 H atau 1952 M s/d 1987 M). Beliau, selama 35 tahun mengajar pada almamatenya - Darul Ulumuddiniyah- pada dua spesifikasi ilmu, yakni ilmu syariat dhahir dan ilmu syariat bathin. Kedua ilmu ini telah mendapat ijazah dari gurunya, Syekh H Yasin Isa Al-Padani (ilmu syariat dhahir) dan  Syekh H Ibrahim bin Kutab Al- Mandaily (ilmu syariat bathin/ ilmu thariqat dijabal Abi qubis Makkah Mukarramah).

Saat ini, Darul Ulumuddiniyah, dalam pengoperasinnya mengalami beberapa masalah. Permasalahan tersebut diantaranya, pembangunan, keadaan guru, kurangnya tenaga yang terampil, kurangnya minat para santri untuk belajar, sistem pengajarannya kurang teratur, dan fasilitasnya yang masih minim, masih diperlukan penambahan. 

Ads
Permasalahan ini,  bila tidak ditanggapi, maka sangat jauh harapan Dayah Darul Ulumuddiniyah dapat mengimbangi kemajuannya dengan dayah-dayah lainnya. Meskipun demikian, secara kuantitas, Dayah ini mempunyai santri mencapai 200-an tersebut masih aktif menjalankan pendidikan, Majelis Tawajuh dan Naksyabandiyah (Suluk).

Majelis Tawajuh dan Suluk, setiap pelaksanaannya diikuti peserta rata-rata 400 orang jamaah. Sedangkan untuk tingkat provinsinya ribuan jamaah selalu aktif mengikuti majelis Tawajuh ini disetiap cabangnya. Tawajuh biasanya dilaksanakan setiap hari Selasa, sedangkan Suluk, dimulai dari Suluk bulan Maulid Awal, Syakban Akhir, Ramadhan dan Suluk Bulan Haji dengan peserta jamaah hampir dari seluruh Aceh.

Editor:Munawir Tahir
Kategori:SerbaSerbi
wwwwww