Tempat Terdingin di Dunia Berpenduduk 500 Jiwa, di Manakah Itu?

Tempat Terdingin di Dunia Berpenduduk 500 Jiwa, di Manakah Itu?
Seorang wanita melintasi sebuah jembatan yang tertutup es di Yakutsk (Yakutia), Siberia, Rusia. Suhu dingin membeku pada titik 51 derajat Celsius di bawah nol atau minus (-) 51 derajat Celsius.
Selasa, 25 Oktober 2016 15:17 WIB

MOSKWA - Seorang fotografer melakukan perjalanan yang berani ke sebuah kota terdingin di dunia, yang dihuni oleh hanya 500 orang, untuk mengetahui bagaimana mereka bisa hertahan hidup di sana.

Fotografer tersebut melakukan perjalanan ke sebuah desa kecil di Oymyakon, yang terletak di wilayah tundra Siberia, seperti dilaporkan Daily Mirror, Minggu (23/10/2016).

Oymyakon adalah ibu kota sebuah distrik, yang terletak di Negara Bagian Sakha (Yakutia), Rusia, dan diyakini sebagai tempat terdingin yang dihuni oleh manusia di bumi ini.

Suhu udara di sana secara teratur berada pada minus (-) 50 derajat Celsius dan menjadikan wilayah itu sebagai tempat terdingin di dunia.

Ads
Sekarang, ketika musim dingin semakin mendekat, 500 warga yang menetap di wilayah itu harus mengatasi kondisi sulit itu setiap hari dengan cara-cara yang ekstrem pula.

Amos Chapple, fotografer asal Selandia Baru, telah bertolak ke desa terpencil di Siberia, Rusia, itu dan menetap di sana dua hari untuk mengetahui bagaimana warga tundra Siberia itu bisa bertahan.

"Saya mengenakan celana tipis ketika saya pertama kali melangkah ke luar rumah dengan suhu minus (-) 47 derajat Celsius," katanya.

"Saya ingat, saya merasa secara fisik suhu dingin mencengkeram kaki saya," kata Chapple kepada Weather.com.

"Kejutan lain, kadang-kadang air liur saya terasa membeku menjadi jarum yang akan menusuk bibir saya," katanya.

Selama kunjungannya, Chapple berhasil mendokumentasikan bagaimana warga mengatasi suhu beku yang ekstrem dari hari ke hari.

Setiap hari barang-barang apa saja di sana berada di bawah ancaman pembekuan konstan.

Tanah tertutup es atau salju tebal, yang membuat hanya sedikit air yang mengalir ke dalam rumah.

Akibatnya, sebagian besar kamar mandi dan toilet tidak bisa berfungsi.

Orang-orang bergerak dengan mengenakan pakaian serba hangat. Rumah, jalan, kendaraan, tertutup es.

Sebelum pemakaman, penduduk setempat harus menyalakan api unggun untuk menggemburkan tanah menjelang pemakaman.

Desa ini telah mencatat suhu terendah yakni  mencapai suhu 71,2 Celsius di bawah nol atau minus (-) 71,2 derajat Celsius pada tahun 1924.

MOSKWA, KOMPAS.com -

 Seorang fotografer melakukan perjalanan yang berani ke sebuah kota terdingin di dunia, yang dihuni oleh hanya 500 orang, untuk mengetahui bagaimana mereka bisa hertahan hidup di sana.

Fotografer tersebut melakukan perjalanan ke sebuah desa kecil di Oymyakon, yang terletak di wilayah tundra Siberia, seperti dilaporkan Daily Mirror, Minggu (23/10/2016).

Oymyakon adalah ibu kota sebuah distrik, yang terletak di Negara Bagian Sakha (Yakutia), Rusia, dan diyakini sebagai tempat terdingin yang dihuni oleh manusia di bumi ini.

Suhu udara di sana secara teratur berada pada minus (-) 50 derajat Celsius dan menjadikan wilayah itu sebagai tempat terdingin di dunia.

Sekarang, ketika musim dingin semakin mendekat, 500 warga yang menetap di wilayah itu harus mengatasi kondisi sulit itu setiap hari dengan cara-cara yang ekstrem pula.

Amos Chapple untuk Daily MirrorSeorang wanita melintasi sebuah jembatan yang tertutup es di Yakutsk (Yakutia), Siberia, Rusia. Suhu dingin membeku pada titik 51 derajat Celsius di bawah nol atau minus (-) 51 derajat Celsius.

Amos Chapple, fotografer asal Selandia Baru, telah bertolak ke desa terpencil di Siberia, Rusia, itu dan menetap di sana dua hari untuk mengetahui bagaimana warga tundra Siberia itu bisa bertahan.

"Saya mengenakan celana tipis ketika saya pertama kali melangkah ke luar rumah dengan suhu minus (-) 47 derajat Celsius," katanya.

"Saya ingat, saya merasa secara fisik suhu dingin mencengkeram kaki saya," kata Chapple kepada Weather.com.

"Kejutan lain, kadang-kadang air liur saya terasa membeku menjadi jarum yang akan menusuk bibir saya," katanya.

Selama kunjungannya, Chapple berhasil mendokumentasikan bagaimana warga mengatasi suhu beku yang ekstrem dari hari ke hari.

Setiap hari barang-barang apa saja di sana berada di bawah ancaman pembekuan konstan.

Tanah tertutup es atau salju tebal, yang membuat hanya sedikit air yang mengalir ke dalam rumah.

Akibatnya, sebagian besar kamar mandi dan toilet tidak bisa berfungsi.

Orang-orang bergerak dengan mengenakan pakaian serba hangat. Rumah, jalan, kendaraan, tertutup es.

Sebelum pemakaman, penduduk setempat harus menyalakan api unggun untuk menggemburkan tanah menjelang pemakaman.

Desa ini telah mencatat suhu terendah yakni  mencapai suhu 71,2 Celsius di bawah nol atau minus (-) 71,2 derajat Celsius pada tahun 1924.

Editor:Kamal Usandi
Sumber:kompas.com
Kategori:SerbaSerbi
wwwwww