Obat Rematik Bisa Menumbuhkan Rambut Pasien Kebotakan Hingga 50 Persen

Obat Rematik Bisa Menumbuhkan Rambut Pasien Kebotakan Hingga 50 Persen
Ilustrasi kepala botak. (kaskus)
Kamis, 20 Oktober 2016 07:33 WIB
JAKARTA - Ada kabar gembira bagi pasien penyakit alopecia areata yang sistem imunnya mengalami gangguan sehingga menyerang akar-akar rambut sehat yang berujung pada kebotakan.Ilmuwan telah memcoba mengatasi hal tersebut melalui eksperimen dengan memberikan pasien obat untuk penyakit autoimun lain yaitu rematik.

Dilaporkan dalam Journal of Clinical Investigation, studi yang dilakukan oleh peneliti dari Stanford University dan Yale University ini melihat hasil positif. Lebih dari setengah 66 pasien alopecia areata yang terlibat dalam studi selama tujuh bulan rambutnya tumbuh kembali.

Sekitar sepertiga pasien bahkan melaporkan rambut mereka tumbuh hampir 50 persen pulih seperti sedia kala.

Ads
Dokter Brett King selaku salah satu peneliti mengatakan kini studi akan mencoba apakah obat rematik tersebut dapat diubah bentuknya menjadi minyak oles. Bila memang bisa maka pertanyaan berikutnya adalah apakah hasilnya akan sama, lebih buruk, atau bisa lebih bagus daripada saat obat dikonsumsi pasien dalam bentuk tablet.

Baca Juga:

. Ternyata Pria Lebih Takut Botak dari pada Impoten

. Wanita Ini Gugat Cerai 2 Hari Setelah Menikah, Gara-gara Suaminya Botak

. Restoran Ini Berikan Diskon Khusus kepada Pengunjung Botak

Terkait hal tersebut dr Angela Christiano dari Columbia University Medical Center yang melakukan studi lain pernah mencoba mengubah obat rematik yang sama ke bentuk minyak dan mengusapkannya ke tikus. Tikus yang digunakan dalam eksperimen sudah dimodifikasi agar memiliki kulit botak.

Sebagai pembanding minyak obat rematik sengaja dioles hanya di sisi sebelah kanan tubuh tikus. Setelah beberapa waktu terlihat jelas bahwa tubuh sisi kanan para tikus dipenuhi rambut.

Apakah hasil yang sama akan terjadi juga pada manusia, dr Angela tidak menjamin namun seharusnya bisa. Ada berbagai faktor yang membuat kulit manusia mungkin akan lebih sulit menerima minyak obat.

"Dibandingkan dengan kulit tikus kulit manusia jauh lebih tebal, lebih berminyak, lebih dalam dan banyak lapisan lemaknya. Jadi ada banyak hal yang harus dipikirkan untuk membuat formula oles yang baik," pungkas dr Angela.***

Editor:sanbas
Sumber:detik.com
Kategori:SerbaSerbi
wwwwww