Home >  Artikel >  SerbaSerbi
Liputan Khusus Religi

Darul Mutaallimin, Pusat Kajian Kitab Kuning di Tanah Merah

Jum'at, 16 September 2016 11:46 WIB
Penulis: Helmi
Dari tahun ke tahun sejak berdirinya dayah tersebut jumlah santri dan santriwati yang mondok terus mengalami peningkatan, sampai akhirnya tahun 2016 ini mencapai 1.300 orang. Dan pesantren ini sudah melahirkan puluhan ribu alumni hingga tahun 2016 ini sejak berdirinya 1962 silam di Tanah Merah. Sebagian besar santri yang mondok merupakan putra-putri dari Subulussalam Aceh, Manduamas Kabupaten Tapanuli Tengah, Kutacane Aceh Tenggara, Pakpak Bharat dan Medan Sumatera Utara. Safwan Juhdu Khaira santri dari pesantren itu juga pernah meraih juara II dalam perlombaan menghafal kitab kuning atau ilmu nahwu di tingkat provinsi. Sekarang Safwan Juhdu melanjutkan pendalaman kitab kuning di pesantren Labuhan Haji Aceh Selatan. Ada juga santri bernama Sri Wahyuni yang menjuarai tingkat nasional dalam bidang perlombaan yang sama. Sekarang Sri Wahyuni sudah melanjutkan kuliahnya di Medan.

Kelebihan para santri/santriwati alumni dari pesantren ini, selepas dari mondok mereka sudah dilatih untuk mandiri dan tidak lagi berpangku kepada orang tua. Mereka yang sudah keluar dari pesantren tersebut dapat mandiri meski hidup di negeri orang. Kebanyakan mereka yang belajar melanjutkan kuliah atau belajar di luar daerah, mereka tidak lagi membebani orang tua, namun kebanyakan malah membantu menafkahi orang tuanya. Mereka biasa sambil kuliah dan menyambi bekerja, membantu di warung-warung, mengajar ngaji atau menjadi pengurus masjid di dekat tempat mereka kuliah. “Jadi tidak harus memberatkan orang tuanya lagi,” kata Khazali.

Sejak berdirinya pesantren itu, sejumlah pemimpin Aceh juga sudah menginjakkan kakinya ke dayah ini. Di antaranya Gubernur Aceh di masa Syamsudin Mahmud yang langsung menanamkan sawit pertama berdirinya dayah tersebut. Gubernur Ali Hasymi, Brigjen Nyak Adam Kamil, Muzakir Walat termasuk Gubernur Aceh saat ini Zaini Abdullah.

Ads
Kalau persoalan di masa pendirian dayah ini, yang dihadapi kondisi masyarakat yang masih primitif, namun masalah besar yang dihadapi saat ini pesantren harus benar-benar menyaring santri yang akan mondok di sini. Terkhusus terhadap siswa-siswi pindahan. Sebab di zaman sekarang ini,  pengaruh narkoba sudah menembus kemana-mana. “Ini faktor adanya jaringan luar  yang sengaja ingin menghancurkan Indonesia lewat narkotika. Ini harus menjadi perhatian serius, termasuk para orang tua, saat mereka libur harus tetap diawasi,” pinta Khazali.

Saat ini guru yang mengajar seluruhnya merupakan alumni dari dayah tersebut. Kepala MAN di jabat Ustaz Aminunsah, Kepala SMP Tanah Merah Ustaz Uma Abidin, Kepala Aliyah Salafiah Ustaz Rusdi dan Kepala Sanawiyah Salafiah, Ustaz Hayan.

Saat ini pesantren sedang dalam persiapan pembangunan masjid di lokasi pondok yang merupakan bantuan pembiayaan dari Pemkab Aceh Singkil senilai Rp400 juta yang sedang dalam persiapan gambar. Selain itu ada juga bantuan dan sumbangan masyarakat senilai Rp126 juta dan Pangdam Iskandar Muda Rp100 juta untuk peningkatan fasilitas di pondok pesantren.

Ketua Umum Santri Agusri dan Siti Aisyah Ketua Umum Santriwati menyampaikan, mereka tetap fokus terhadap ilmu agama, selain kegiatan pramuka, keinginan siswa-siswi di sana juga agar dilaksanakannya olah raga sebagai kegiatan ekstrakurikuler. “Sedangkan untuk waktu pelajaran barjanji dilaksanakan setiap malam Jumat, dalail khairat Rabu malam  dan pelajaran pidato setiap hari Kamis,” kata Agusri.

“Pesantren memang tidak ada kegiatan olahraga, namun fasilitas laboratorium komputer dan perpustakaan kitab kita sudah lengkapi. Memang sudah ada arahan dari Abuya kita pertama untuk olahraga dikurangi karena itu hanya membuat lalai, namun pramuka tetap ada. Dan jam kegiatan olahraga selama ini diganti sebagai sarana kegiatan kebersihan di lokasi pondok,” papar Ustaz Khazali yang merupakan mantan Bupati Aceh Singkil itu.

Editor : Zainal Bakri
Kategori : SerbaSerbi
www www