Jutaan Rakyat Turki Rayakan Kegagagalan Kudeta Militer

Jutaan Rakyat Turki Rayakan Kegagagalan Kudeta Militer
Pendukung pemerintah dan oposisi, Minggu (7/8/2016), menggelar demonstrasi persatuan tolak kudeta pada 15 Juli di alun-alun Yenikapi. [Reuters]
Senin, 08 Agustus 2016 08:07 WIB
ISTANBUL - Jutaan rakyat Turki dan para pemimpin oposisi berkumpul di alun-alun Yenikapi merayakan kegagalan kudeta militer bulan lalu. Mereka bersatu di belakang Presiden Recep Tayyip Erdogan melawan kelompok kudeta.Massa mengubah alun-alun Yenikapi menjadi lautan merah putih khas warna bendera Turki. Mereka pun mengikat kepala mereka dengan tulisan Erdogan. Salah satu spanduk besar bertuliskan 'Kemenangan milik demokrasi, alun-alun milik rakyat'.

Di antara tokoh oposisi yang hadir pemimpin Partai Rakyat Republik (CHP) Kemal Kilicdaroglu dan pemimpin Partai Gerakan Nasionalis (MHP) Devlet Bahceli. Media pro pemerintah mengatakan tiga juta warga Turki menghadiri perkumpulan akbar ini, dibawah pengamanan ketat sekitar 15.000 aparat kepolisian.

Bahkan salah satu pejabat senior pemerintah yang tidak ingin disebutkan namanya, menyebutkan ada sekitar lima juta warga yang datang di alun-alun dan sekitarnya.

Ads
Dalam pidatonya, Presiden Erdogan kembali menekankan ulama kenamaan Turki Fethullah Gulen yang bermukim di Amerika Serikat, harus membayar mahal atas upaya kudeta yang gagal pada 15 Juli lalu. Gulen dituding ada dibalik upaya kudeta militer yang gagal tersebut.

Di sisi lain, Erdogan kembali menekankan akan kembali menerapkan hukuman mati di Turki. Ia yakin partai politik akan menyetujui jika kehendak rakyat Turki menginginkan kembali hukuman mati.

"Jika bangsa membuat keputusan seperti itu (dalam mendukung hukuman mati), saya percaya partai politik akan mematuhi keputusan ini," kata Erdogan.

"Parlemen Turki akan memutuskan ini (hukuman mati) yang diberi kedaulatan oleh bangsa. Kedepannya, saya akan menyetujui keputusan yang dibuat parlemen," imbuhnya.

Pernyataan Erdogan ini, menimbulkan kekhawatiran di kalangan negara-negara Uni Eropa. Turki sejatinya telah menghapuskan hukuman mati sejak 2004, sebagai upaya untuk bergabung dengan Uni Eropa. Namun, Erdogan menepis kritik tersebut, bahwa hukuman mati pun berlaku di negara sebesar Amerika Serikat, Jepang dan Tiongkok.

Demonstrasi perkumpulan massa itu, tidak hanya terjadi di Istanbul dan Ankara tetapi juga di tempat-tempat wisata seperti Izmir, Antalya dan Diyarbakir.

Editor:Kamal Usandi
Sumber:metrotv.com
Kategori:SerbaSerbi
wwwwww