Home >  Artikel >  SerbaSerbi
Sejarah Perlawanan dari Aceh Selatan

Dua Perwira Militer Belanda Tewas di Ujung Pedang

Dua Perwira Militer Belanda Tewas di Ujung Pedang
Pejabat Pemkab Aceh Selatan, ziarahi makam pahlawan Teuku Cut Ali di Suaq Bakong, Kluet Selatan pada peringatan HUT RI ke 70 (17/8/2015) lalu. [Al Fahd Radi Fahlefi]
Minggu, 07 Agustus 2016 21:09 WIB
Penulis: Al Fahd Radi Fahlefi

KECAMUK  perang dalam mempertahankan tanah air, kedaulatan  dan kemerdekaan RepublikIndonesiabergemuruh di seluruh nusantara. Berbekal pedang, bambu runcing dan taktik, pahlawan di pelbagai pelosok nusantara bergerilya melawan penjajahan Belanda. Mereka rela berkubang darah, nyawa dan harta benda hingga bangsa ini menikmati kemerdekaan ke 71 pada 17 Agustus 2016 nanti.

Sejarah membuktikan, selain pahlawan nasional yang tersohor ke seantero negeri, di daerah-daerah juga tumbuh perlawanan sengit. Banyak serdadu Belanda tewas terhunus pedang dan bambu runcing. Di Aceh Selatan, sejumlah perwira militer Belanda tewas. Letnan Molenaar, misalnya tewas di tangan pasukan Teuku Cut Ali. Sedangkan Kapten J Paris tewas berduel dengan Panglima Raja Lelo. 

Dentuman senjata serdadu Belanda berdesing dahsyat, gempuran demi gempuran mengorbankan nyawa dan harta benda. Cengkeraman penjajahan Belanda begitu kuat untuk menguasai pesisir Selatan Aceh pada tahun 1825. Hal itu terbukti dengan dibangunnya Asrama Militer (tangsi) Belanda di Bakongan. 

Walaupun hanya berbekal, pedang, bambu runcing dan parang, serdadu Belanda banyak tewas bersimbah darah. Moncong senapan lawan tidak membuat nyali Teuku Cut Ali, Raja Lelo (Tgk. Banta Saidi) dan Teuku Raja Angkasah ciut. Semangat perjuangan terus berkobar dari satu kawasan ke kawasan lain. Ketika  terjadi peperangan di Gunong Kapoe (Gunung Kapur), Trumon Tengah, serdadu Belanda juga banyak yang tewas. Perjuangan menjalar ke Buket Gadeng, Kecamatan Kota Bahagia, Kluet Raya hingga ke Terbangan. 

Ads
Penghadangan di  Gampong Ie Mirah, Kecamatan Pasie Raja membuah hasil, Letnan Molenaar tewas terbunuh pasukan Teuku Cut Ali. Sejumlah serdadu lain juga kehilangan nyawa. Hingga tahun 1872 pasukan gelilya Aceh Selatan di bawah Panglima Sagoe Teuku Cut Ali terus menyala. Pasca Letnan Molenaar tewas, Belanda mengirimkan Kapten J Paris atau yang lebih dikenal dengan julukan Singa Afrika untuk melumpuhkan pejuang-pejuang muslim Aceh Selatan. 

“Ketangkasan pasukan gerilya Aceh Selatan kian membuat kompeni tersudut. Belanda berang dan menambah opsir-opsirnya ke Bakongan di bawah pimpinan Kapten Gosenson sebagai pejabat kontroler. Serangan dan serbuan terus bergejolak, pasukan Teuku Cut Ali bersurut pantang. Penyerangan yang dilakukan Teuku Cut Ali, Raja Lelo dan Raja Anggkasah tidak dalam satu pasukan. Gerilyawan ini bertempur terpisah pisah dengan masing-masing panglima,” ujar Masluyuddin dikutip dari buku sejarah yang ditulis Syafi’i Kasma, Minggu (7/8/2016). 

Sebagaimana ditulis H.C Zentgraaff tentang sejarah Teuku Cut Ali. Era itu, Kapten Gosenson memperalat pengkianat (cuak) untuk mengetahui keberadaan Teuku Cut Ali. Dalam sebuah penyerangan yang dipimpin Imum Sabi, 9 serdadu Belanda luka-luka, termasuk marsose asal pulau Jawa dan Dardanel Ambon bernama Pesuwarissa terluka parah.  

Editor : TAM
Kategori : SerbaSerbi
www www