Liputan Khusus Religi

Dayah Darussalam Labuhanhaji Peninggalan Besar Abuya Muda Waly

Dayah Darussalam Labuhanhaji Peninggalan Besar Abuya Muda Waly
Gerbang Dayah Darussalam Labuhanhaji, Aceh Selatan
Jum'at, 05 Agustus 2016 13:56 WIB
Penulis: Al Fahd Radi Fahlefi

DAYAH Darussalam, di Gampong Blang Poroh, Kecamatan Labuhanhaji Barat, Kabupaten Aceh Selatan merupakan salah satu dayah tertua yang masih aktif di Aceh saat ini. Didirikan oleh ulama kharismatik Syekh H Abuya Muhammad Waly Al Khalidi yang tersohor dengan panggilan Syekh H Abuya Muda Waly sekira tahun 1940.

Di pusat pendidikan agama Islam mazhab Syafi’i dan faham Ahlussunnah wal Jamaah INI hanya mampu menampung 2.250 santri, karena keterbatasan fasilitas. Sementara setiap tahun jumlah santri yang mendaftar selelau di atas jumlah batas penerimaan. Inilah yang menjadi kendala bagi pengelola dayah, untuk membantu generasi pilihan Aceh yang memilih belajar agama di dayah tersebut. Mereka datang dari pelbagai pelosok Aceh maupun luar Aceh, bahkan dari negara tetangga. 

“Penerimaan santri terpaksa kita batasi mengingat keterbatasan fasilitas. Jika tidak, mungkin jumlah santri melebihi kapasitas, setidaknya tembus 4.000 orang. Kebijakan ini terpaksa kita lakukan demi kenyamanan santRi dalam belajar,” kata Sekretaris Dayah Darussalam, Abi Hidayat Muhibuddin Waly yang tidak lain adalah putra kedua Abuya Prof DR H Muhibuddin Waly kepada GoAceh, Rabu (3/8/2016). 

Abi Hidayat Muhibuddin Waly menjelaskan, awalnya Dayah Darussalam didirikan kakeknya (Syekh H Abuya Muda Waly-red) di atas lahan seluas 400x250 meter per segi. Atas partisipasi masyarakat, baik sumbangan dana maupun wakaf, lahan dayah sudah bertambah menjadi 4,4 hektare. Terakhir tahun 2014 masyarakat berhasil menghibahkan kembali lahan seluas satu hektare, hingga  kini luas Dayah Darussalam Labuhanhaji sudah mencapai 5,5 hektare. 

Ads
Keberadaan Dayah Darussalam dilengkapi berbagai fasilitas ibadah, ruang belajar, perpustakaan, asrama putra-putri dan pemondokan (bilik). Di dayah ini sudah banyak dilahirkan ulama-ulama terkemuka, tidak hanya warga Aceh dan Sumatera tetapi menyebar ke seluruh penjuru nusantara hingga Asia Tenggara. 

“Jumlah santri tahun ini di tingkat Madrasah Ibtidaiyah (MI), Madrasah Tsanawiyah (MTs), dan Madrasah Aliyah (MA), dari kelas I sampai IX sebanyak 2.250 orang. Pembatasan penerimaan santri untuk menghindari proses belajar mengajar berdesakan. Harapan kita, fasilitas Dayah Darussalam dapat ditingkatkan agar dapat menampung putra-putri kita yang haqul yakin menuntut ilmu agama,” tandas Abi Hidayat di sela-sela menyambut pelayat atas wafatnya Syekh H Abuya Jamaluddin Waly beberapa waktu yang lalu.

Sesuai aturan, katanya, setiap santri yang masuk ke Dayah Darussalam tetap dimulai dari kelas I (Madrasah Ibtidaiyah). Walaupun sebelumnya telah menamatkan sekolah SMA sederajat di luar dayah. Penerapan ini, katanya, sudah berlangsung sejak kakeknya Syekh H Abuya Muda Waly masih hidup.

Menurut Abi Hidayat, jumlah jemaah membludak terjadi pada bulan puasa (Ramadhan). Selain ribuan santri Dayah Darusslam sendiri, pada saat itu dibanjiri ribuah jemaah lainnya yang datang secara khusus untuk melaksanakan ibadah suluk. Lokasi dan masjid Syekhuna (masjid guru kita) disesaki jemaah dengan lantunan suara zikir, tasbih, yasinan dan pengajian. Darussalam tidak pernah sepi dari aktivitas ibadah. 

Editor:Zainal Bakri
Kategori:SerbaSerbi
wwwwww