Selamat Jalan Ryan Giggs: Seorang Legenda yang Tak Akan Pernah Disamai

Selamat Jalan Ryan Giggs: Seorang Legenda yang Tak Akan Pernah Disamai
Ryan Giggs
Selasa, 12 Juli 2016 10:01 WIB

MANCHESTER - Apa yang dilakukan oleh mantan asisten manajer Manchester United ini sepertinya tidak akan pernah ada yang bisa mengulanginya lagi, tulis the Republik of Mancunia. Tapi, hey, ini adalah sebuah perjalanan yang luar biasa!

Pada hari Sabtu lalu, fans Manchester United akhirnya harus menerima berita yang sudah mereka perkirakan semenjak beberapa waktu terakhir. Ryan Giggs pergi meninggalkan klub ini.

Para suporter United harus berada di usia 30an tahun untuk memiliki kenangan seperti apa United tanpa Giggs, yang menjalani debutnya pada tahun 1991, dan fakta tersebut jelas menunjukkan hubungan yang dimiliki orang ini dengan United.

loading...
Giggs akan membangun karier manajerialnya di tempat lain

Ads
Sir Matt Busby menjadi manajer United selama 24 tahun, Sir Alex Ferguson menjadi manajer mereka nyaris 27 tahun, namun karier Giggs di United mencapai angka 29 tahun, dimulai ketika ia bergabung dengan klub ini saat masih berusia 14 tahun.

Legenda klub

Perjalanannya sejak itu tidaklah selalu mulus, di mana dirinya berhasil mencapai titik tertinggi dengan memecahkan rekor demi rekor dan mengangkat trofi demi trofi. Tapi ia juga pernah, dan bahkan cukup sering, merasakan masa-masa tidak populer di Old Trafford.

Seperti para fans Inggris yang lebih memilih untuk melupakan masa-masa ketika mereka mencemooh pemain paling sering tampil untuk timnas, David Beckham, fans United sering melupakan waktu-waktu di mana Giggs tampil buruk, saat masalah cederanya tidak kunjung berakhir, dan bahkan saat ia sempat terlihat akan pindah ke Italia. Giggs saat itu membantah bahwa kepindahan tersebut bisa terjadi, dan ia pun telah mengulangi bantahannya tersebut berkali-kali, tapi Peter Kenyon tidak menutup kemungkinan akan menjual dirinya.

Baru-baru ini, beberapa bagian dari suporter menyalahkan Giggs untuk perannya sebagai asisten manajer. Sepakbola United di era Louis Van Gaal sangatlah buruk dan para fans ingin Giggs berperan lebih besar. Tanggung jawab untuk menyelamatkan klub ini berada di bahunya dan, bagi beberapa pihak, ia gagal, dan mereka tidak kesulitan untuk membedakan Giggs sebelum dan sesudah pensiun.

Segera menjadi seorang manajer?

Secara realistis, tidak adil untuk mengharapkan Giggs melakukan sesuatu yang lebih besar dari yang telah ia lakukan, dan akan sangat salah jika ia menyerang sang manajer di hadapan publik. Tidak ada fans yang tahu apa yang terjadi di balik layar, percakapan seperti apa yang terjadi antara keduanya, atau seberapa besar tanggung jawab yang ia miliki, jadi rasanya terlalu keras untuk mengkritik dirinya untuk sesuatu yang tidak ia kendalikan sama sekali.

Giggs sempat merasa bahwa dirinya disiapkan untuk menjadi pengganti Van Gaal dan bisa dimengerti jika ia memutuskan untuk pergi setelah klub memilih untuk mendatangkan Jose Mourinho.

Jika Van Gaal berhasil mencapai target yang harus ia capai, dan menghapus horor yang diciptakan selama beberapa bulan era David Moyes sekaligus mengembalikan United ke puncak, maka mungkin Giggs akan menjadi pilihan yang masuk akal saat orang Belanda ini pergi. Namun saat ini, United tidak bisa berjudi lagi dengan menunjuk Giggs menjadi manajer seperti yang diharapkan Ferguson dan banyak orang lainnya, dan terpaksa untuk memilih pengganti yang sudah terbukti kualitasnya, walaupun sebelumnya nama ini sudah sempat mereka abaikan.

Diabaikan

Bersamaan dengan kepergian Giggs, muncul kesadaran bahwa ia sepertinya tidak akan menjadi manajer United untuk saat ini. Jika penunjukkan itu akan terjadi, jika ia seharusnya menjadi Pep Guardiola atau Zinedine Zidane selanjutnya, ini seharusnya terjadi di awal karirnya. Jika ia melatih klub semacam Nottingham Forest atau Bolton dan sukses, hal itu tidak akan membuatnya kandidat yang bagus untuk menjadi manajer United. Hal itu hanya akan menunjukkan bahwa ia masih di bawah Moyes.

Kenyataan ini memberikan sebuah akhir untuk mimpi bahwa Giggs, yang sudah mendukung United sepanjang hidupnya, bisa mengubah dirinya dari seorang murid menjadi seorang bos di salah satu klub terbesar di dunia. Jika orang lain bisa melakukannya, maka seharusnya Giggs pun bisa, seorang pemain yang diidolakan begitu banyak orang untuk waktu yang begitu lama.

Tetap saja, berbagai masa buruk yang dialami Giggs di klub ini tertutup dengan berbagai pencapaian hebat yang ia dapatkan.

Saat melihat kembali ke karirnya, sebagai pemain maupun pelatih, ada beberapa momen-momen menonjol yang tidak mungkin terlewatkan.

Gol di laga debutnya menghadapi City; melewati setengah tim Arsenal di perpanjangan waktu untuk menciptakan gol terhebat sepanjang masa di Piala FA; memenangi trigelar; melewati rekor penampilan Sir Bobby Charlton di malam yang sama di mana ia menyelesaikan penalti terakhir United untuk memenangi Liga Champions di Moskow; saat ia keluar dari lorong Old Trafford dengan jas manajernya; dan, yang terbaru, saat ia berada di pinggir lapangan di Wembley untuk menggalang dukungan para suporter United sebelum Jesse Lingard menciptakan gol penentu yang luar biasa di final Piala FA.

Editor:Kamal Usandi
Sumber:fourfourtwo.com
Kategori:SerbaSerbi
wwwwww