Liputan Khusus Religi

Dayah Malikussaleh, Pencetak Ulama Salafi Aceh

Dayah Malikussaleh, Pencetak Ulama Salafi Aceh
Abu Panton [Foto: al-aziziyah.org]
Sabtu, 02 Juli 2016 12:40 WIB
Penulis: Jamaluddin Idris

SIAPA yang tidak kenal dengan nama Tgk H Ibrahim Beurdan atau Abu Panton. Nama besar ini tercatat dalam daftar para ulama kharismtik di tanah Aceh. Meski beliau sudah almarhum, namun perjuangan dan kerja keras semasa hidupnya membangun lembaga pendidikan agama di tanah kelahirannya, Aceh Utara, masih berdiri kokoh hingga kini. Ia salah satu ulama besar yang bergeming di tengah gempuran lembaga pendidikan agama modern.

Gerbang Dayah Malikussaleh

Sore itu, Kamis (30/6/2016), sekitar pukul 16.00 WIB, cuaca mendung menyelimuti Kompleks Dayah Malikussaleh di Gampong Rawang Itek, Kecamatan Tanah Jambo Aye, Kabupaten Aceh Utara. Suasana terlihat lebih sepi dari hari-hari sebelum Ramadan. Pengelola dayah menginformasikan, selama Ramadan, banyak santri yang memilih pulang untuk berlibur di kampung halaman.

Sekitar 10 meter dari arah pintu gerbang dayah, terlihat sebuah musala seluas sekitar 20x20 meter. Bangunan dua lantai berkonstruksi beton itu tampak megah. Sayup-sayup terdengar suara orang berzikir.

Ads
Kedatangan GoAceh disambut oleh Sekretaris Pasantren Malikussaleh, Tgk. Zakariya. “Selamat datang di dayah kami. Silakan masuk dan duduk di sini dulu sambil kita ngobrol,” katanya. 

Meski banyak yang memilih pulang kampung, namun tak sedikti juga santri yang memilih bertahan di dayah. Menurut Tgk Zakariya, yang memilih bertahan, supaya lebih fokus beribadah selama bulan puasa. “Ada sekitar seratusan yang memilih berpuasa dan beribadah di dayah,” katanya.

Ia mengatakan, setelah Abu Panton kembali menghadap Ilahi sejak tiga tahun lalu, ada yang berubah di dalam lingkungan dayah. Para santri dan guru merasa kesepian dari sapaan, teguran, arahan dan tentu saja bimbingan dari Sang Abu.

Almarhum Tgk. H Ibrahim Beurdan adalah anak dari Teungku Beurdan dan Ummi Culot. Ia dilahirkan pada 8 Juli 1945 di Gampong Matang Jeulikat, Kecamatan Seunuddon, Aceh Utara. Beliau menikahi Ummi Hj. Zainabon pada tahun 1985. Namun sayangnya, hingga beliau mangkat, Allah belum mengaruniakan seorang putra sebagai penerus perjuangannya dalam mengembangkan pendidikan agama.

Editor:Zainal Bakri
Kategori:SerbaSerbi
wwwwww