La Nina, Ini Daerah-daerah di Sumatera yang Berpotensi Diterjang Longsor, Banjir dan Puting Beliung pada Juli-September

La Nina, Ini Daerah-daerah di Sumatera yang Berpotensi Diterjang Longsor, Banjir dan Puting Beliung pada Juli-September
Jembatan Citarum berubah menjadi dermaga perahu di perbatasan Dayeuhkolot Baleendah, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, saat banjir sungai Citarum merendam ruas jalan provinsi tersebut, 16 Maret 2016. (tempo.co)
Rabu, 08 Juni 2016 16:54 WIB
JAKARTA - Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) meminta masyarakat mewaspadai potensi curah hujan tidak normal pada periode musim kemarau, yaitu Juli, Agustus dan September 2016.

“Curah hujan tinggi banyak terjadi di beberapa wilayah sehingga berpotensi menimbulkan tanah longsor, bahkan puting beliung,” kata Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho dalam rilisnya pada Rabu, 8 Juni 2016.

Wilayah yang terkena dampak curah hujan tak normal itu adalah Sumatera Utara bagian barat, Sumatera Barat bagian barat, Sumatera Selatan, Lampung, Jawa bagian barat, dan Kalimantan Utara.

Lalu Kalimantan Timur, Kalimantan Tengah, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, dan Papua. Sutopo berharap koordinasi antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah berjalan intensif untuk mencegah dampak negatif dari banjir dan tanah longsor tersebut. 

Ads
Curah hujan yang tidak normal itu merupakan bagian dari fenomena La Nina yang, oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), diprediksi muncul mulai Juni hingga September 2016. Perubahan iklim atau La Nina dengan intensitas lemah hingga sedang ini muncul akibat fenomena Dipole Mode Negatif. 

La Nina terjadi di saat kondisi suhu muka laut di bagian barat Sumatera lebih hangat daripada suhu muka laut di pantai timur Afrika. “Sehingga menambah pasokan uap air, yang menimbulkan bertambahnya curah hujan untuk wilayah Indonesia bagian barat,” kata Sutopo.

La Nina ini, kata Sutopo, akan berdampak positif dan negatif. Dampak positifnya, kekeringan dan kebakaran lahan tidak akan sebesar pada 2015. “Selain faktor alam yang mendukung, antisipasi kebakaran hutan pada 2016 lebih baik dibanding tahun sebelumnya.”

BNPB, kata Sutopo, telah menempatkan 2 helikopter dan 2 pesawat air tractor  untuk water bombing di Pekanbaru, Riau, sejak April 2016. “Hampir setiap hari helikopter dan pesawat tersebut melakukan pemadaman api di Riau,” ujarnya.

Dampak negatifnya, potensi banjir dan tanah longsor diperkirakan meningkat. Curah hujan tinggi banyak terjadi di beberapa wilayah sehingga menimbulkan tanah longsor, bahkan puting beliung.

Kata Sutopo, kejadian bencana pada 2016 relatif lebih sedikit dibanding pada 2015. Begitu pun jumlah korban jiwanya. Dihitung pada periode yang sama, kejadian bencana pada 2015 mencapai 1.702. Sedangkan pada 2016, hingga 7 Juni, telah terjadi 978 kejadian bencana.

Diperkirakan, pada musim hujan akhir 2016 dan awal 2017, curah hujan akan meningkat dibanding periode sebelumnya sehingga potensi banjir, tanah longsor, dan puting beliung juga akan meningkat.

“Antisipasi menghadapi kemarau basah dan musim hujan akibat La Nina perlu ditingkatkan, sesuai dengan tingginya ancaman bencana,” ujarnya.***
Editor:sanbas
Sumber:tempo.co
Kategori:SerbaSerbi
wwwwww