Home >  Artikel >  SerbaSerbi

Pencuri Kain Kapan Kaget Temukan Orang yang Dikubur Masih Hidup, Begini Ceritanya

Pencuri Kain Kapan Kaget Temukan Orang yang Dikubur Masih Hidup, Begini Ceritanya
(nu.or.id)
Selasa, 31 Mei 2016 13:34 WIB
HABIB Abdullah bin Abdurrahman Al-Muhdlar menceritakan, suatu saat, Abdullah bin Umar Al Baidlawi sudah dianggap meninggal oleh orang-orang di sekitarnya. Usai dirawat sebagaimana jenazah pada lazimnya, ia dikebumikan dan diratakan tanah di atas pusaranya. Namun, setelah dikubur, Abdullah ternyata belum mati. Hanya jantung dan napasnya yang berhenti sementara.

Cerita itu disampaikan Habib Abdullah bin Abdurrahman Al-Muhdlar, ulama dari Hadramaut, Yaman itu saat menjawab pertanyaan salah satu pengunjung tentang mati suri dalam acara Haflah Akhir Sanah Pesantren Darut Tauhid Al Huda, Jatilawang, Wanayasa, Banjarnegara, Rabu (25/5).

Ia melanjutkan, karena tidak bisa keluar dari dalam kuburan, Abdullah bin Umar kemudian bernazar. Jika bisa hidup kembali ke dunia sebagaimana semula, ia akan menafsiri Alquran.

Tidak berapa lama, seorang pencuri kain kafan datang menggali kuburan Abdullah dikebumikan. Ia kaget bukan kepalang. Jenazah yang ia gali dapat bergerak sendiri. Ia pun lari tunggang-langgang.

Ads
Habib muda ini melanjutkan, jenazah yang hidup lagi ini lalu menyeru kepada pencuri, “Hai, jangan lari, kemari! Begini, kamu ini ingin mencuri kain kafanku bukan?”

“Iya,” jawab pencuri.

“Sekarang, bawalah kain kafanku ini dan sampaikan kepada orang kampung agar mereka mengirimkanku pakaian,” pesan Abdullah.

Dan benar, setelah kembali ke dunia, Abdullah bin Umar ini menyusun tafsir Anwarut Tanzil wa Asrarut Ta’wil yang terkenal dengan Tafsir Al-Baidlawi.

Habib Muhdlar menyimpulkan dengan adanya kisah tersebut, bahwa siapa pun dalam memutuskan perkara harus ada kalimat wallahu a’lam. Manusia hanya memutuskan yang tampak lahir saja. Sedangkan hakikatnya hanya Allah yang maha tahu.

“Seperti dokter di akhir zaman ini yang langsung memvonis mati salah satu pasien, misalnya. Mereka tanpa mengatakan allahu a‘lam. Padahal ini hanya pengetahuan saja. Bukan hakikat sebagaimana yang terjadi dalam cerita di atas,” tandasnya.

Maka tak jarang, lanjutnya, banyak orang mati yang hakikatnya belum mati namun ia mati justru baru saat ia dikubur, karena ia tak bisa bernapas atau yang lainnya sedangkan dokter memang sudah memberikan vonis mati. Di sinilah pentingnya kalimat allahu a’lam.

Terakhir, dai dari Yaman ini berpesan supaya tidak terlalu terburu-buru dalam mengurus jenazah. Cepat itu perlu, tapi jangan terlalu. Ciri-ciri orang mati setidaknya ada tiga hal, di antaranya hidung yang sudah melenceng, seperti meleleh ke samping, telapak kaki yang sudah tidak tegak ke atas, dan mulut yang berbau busuk.***
Editor : sanbas
Sumber : nu.or.id
Kategori : SerbaSerbi
www www