Home >  Artikel >  SerbaSerbi

Kukuh Tempuh Jalur Hukum, Istri Siyono Ikhlas Diusir dari Kediamannya

Kukuh Tempuh Jalur Hukum, Istri Siyono Ikhlas Diusir dari Kediamannya
Istri Siyono, Suratmi, menyerahkan dua bungkusan berisi uang kepada pengurus PP Muhammadiyah di kantor PP di Yogyakarta, Selasa. Uang itu pemberian dari pihak kepolisian. (republika.co.id)
Rabu, 30 Maret 2016 19:08 WIB
KLATEN - Ketua Umum PP Pemuda Muhammadiyah, Dahnil Anzar Simanjutak, tak kuasa membendung air mata ketika menemui Suratmi (29 tahun), istri terduga teroris, Siyono, di rumahnya di Kampung Brengkungan, Desa Pogung, Kecamatan Cawas, Kabupaten Klaten, Jateng, Rabu (30/3).

Dahnil dikawal sejumlah anggota Kokam (Komando Kesiapsiagaan Angkatan Muda Muhammadiyah) menemui Suratmi. Ibu lima anak juga didampingi kerabat. Sekitar satu jam lebih, pertemuan tertutup pimpinan organisasi kepemudaan PP Muhammadiyah berlangsung.

Usai pertemuan, rombongan menunaikan salat Zuhur di Masjid Munirah yang melekat jadi satu dengan rumah orang tua Siyono. Dahnil menggelar konferensi pers usai menunaikan salat.

Suratmi sempat meneteskan air mata. Dia dengan penuh keikhlasan siap angkat kaki meninggalkan Kampung Brengkungan. ''Tidak apa. Saya ikhlas pergi dari sini. Tanah milik Allah luas. Kami siap hidup dimana pun''.

Ads
Pernyataan tulus Suratmi tersebut menjawab tuntutan warga. Mereka menolak pembongkaran dan autopsi jenazah Siyono. Bila autopsi dilakukan, jenazah tidak boleh dimakamkan di sana lagi. Keluarga Siyono pun harus angkat kaki dari Dukuh Brengkungan. ''Saya trenyuh mendengar pernyataan Bu Suratmi. Nangis saya tadi. Haru saya tadi,'' aku Dahnil.

Keharuan Dahnil juga terlihat ketika Suratmi menyerahkan dua gepok uang yang ke PP Muhammadiyah sehari sebelumnya. Uang yang diperkirakan ratusan juta dari polisi itu diduga untuk membungkam Suratmi agar tidak melakukan upaya hukum atas kematian suaminya. ''Ternyata wanita ini mempunyai karakter, bersikukuh, tidak goyah dengan uang. Materi bukan segala-galanya,'' ujar Dahnil.

Menurut Dahnil, kematian suaminya jelas pukulan sangat berat bagi Suratmi. Betapa tidak, Suratmi harus menyandang status janda dengan tanggungan lima anak yang masih kecil. Siapa yang harus tanggung-jawab membesarkan dan mendidik mereka, sementara negara tidak hadir dalam masalah ini.

Almarhum Siyono bukan warga maupun kader Muhammadiyah. Tapi, Muhammadiyah ingin hadir di dalamnya. Ingin melindungi, menuntut keadilan, memberi rasa aman, melakukan advokasi hingga tuntas.  ***
Editor : sanbas
Sumber : republika.co.id
Kategori : SerbaSerbi
www www