Hubungan Renggang, Malaysia-Korut Siap Bicara 'dari Hati ke Hati'

Hubungan Renggang, Malaysia-Korut Siap Bicara dari Hati ke Hati
Ilustrasi
Minggu, 12 Maret 2017 16:12 WIB
KUALA LUMPUR - Dalam beberapa hari ke depan, Malaysia akan memulai pembicaraan formal dengan Korea Utara. Hubungan kedua negara sempat memanas dan merenggang sebagai buntut kasus pembunuhan Kim Jong-nam, yang merupakan kakak tiri pemimpin Korut, Kim Jong-un.Malaysia, yang geram dituduh ikut berkonspirasi dalam pembunuhan tersebut, mengusir Dubes Korut, Kang Chol. Sebagai balasan, Korut 'menyandera' 11 warga negara Malaysia, dua di antaranya merupakan pejabat PBB. Kedua negara bahkan sempat memberlakukan larangan bepergian bagi warga negara mereka dari dan ke Malaysia maupun Korut.

Pemerintah Malaysia lalu memulai berbagai upaya meredakan ketegangan diplomatik. Mereka juga menegaskan, tidak akan memutuskan hubungan diplomatik dengan Korut.
Dilansir Asian Correspondent, Minggu (12/3/2017), Menteri Luar Negeri (Menlu) Malaysia Anifah Aman menyatakan, Korut telah memberi indikasi siap bernegosiasi.

"Mereka mulai mau berbicara. Kami tidak tahu apa keinginan mereka, tapi Malaysia perlu mencari tahu apa yang bisa dilakukan untuk mendapatkan hasil terbaik," ujar Anifah.

Ads
Menurutnya, banyak negara menawarkan peran mediasi bagi Malaysia-Korut, namun tidak ada satu negara pun yang akan bertindak sebagai mediator dalam pembicaraan ini.

"Kami juga belum menentukan tempat dan lokasi untuk negosiasi resmi tersebut," imbuh Anifah.

Malaysia menuduh Korut sebagai dalang pembunuhan Kim Jong-nam di Bandara Internasional Kuala Lumpur pada Senin 13 Februari. Kepolisian Malaysia juga telah mengidentifikasi delapan pria warga negara Korut yang terkait pembunuhan tersebut.

Tak hanya menyanggah tuduhan itu, Korut juga mengkritik cara Malaysia menyelidiki kasus pembunuhan Kim Jong-nam.

Selama ini, Kim Jong-nam vokal mengkritik pemerintah adik tirinya. Ia hidup di bawah perlindungan Pemerintah China di Makau. Diketahui, racun VX-lah yang menghabisi nyawanya. PBB mengklasifikasikan senyawa itu sebagai senjata pemusnah massal.

Anifah mengimbuhkan, Pemerintah Malaysia terus bekomunikasi intensif dengan warganya yang masih tertahan di Korut, tiga di antaranya merupakan anak-anak. Ia menambahkan, mereka telah ditawari bantuan oleh berbagai wakil pemerintahan asing di Pyongyang, termasuk pasokan logistik dari luar Korut.

Semantara itu, Kepolisian Malaysia pada Jumat mengonfirmasi bahwa korban pembunuhan pada 13 Februari adalah benar Kim Jong-nam. Namun, klaim ini dibantah oleh Pyongyang.

Malaysia juga menolak permintaan Korut untuk menyerahkan jasad Kim Jong-nam. Anifah menegaskan, pihaknya masih akan mendiskusikan apakah jenazah akan diserahkan ke Pemerintah Korutatau ke keluarga.

Editor:Sisie
Sumber:okezone.com
Kategori:Ragam
wwwwww