Memilih mandiri dengan bertani

Memilih mandiri dengan bertani
ilustrasi - Seorang petani memeriksa tanaman melon miliknya di Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah.
Senin, 06 Maret 2017 14:34 WIB
Lebih memilih bertani di kampung daripada kerja di kota?" itulah sepenggal pertanyaan, bisa jadi keheranan, yang terlontar dari sejumlah awak media ketika mendengar kisah Inan Alisanjaya pemuda 29 tahun yang telah menjadi ketua kelompok tani di desanya.Saat ini, bekerja di sektor pertanian bagi anak muda dinilai tidak menarik, selain penghasilannya relatif rendah, bertani juga dianggap kurang bergengsi dibandingkan menjadi buruh di pabrik atau pekerjaan di kota lainnya.

Sehingga tidak mengherankan jika arus urbanisasi dari desa ke kota-kota besar selalu meningkat dari tahun ke tahun, sementara di perdesaan kekurangan tenaga kerja, khususnya usia muda, terutama di sektor pertanian.

Namun daya tarik kota ternyata tidaklah menggoda pikiran Inan Alisanjaya untuk meninggalkan desanya, Desa Singasari, Kecamatan Jonggol, Kabupaten Bogor, Jawa Barat yang bisa dibilang berhimpitan dengan Kota Bogor, Bekasi maupun Ibu Kota Jakarta.

"Kalau kerja di pabrik ada ancaman pemecatan atau pensiun, kalau jadi petani gak akan ada pemecatan ataupun pensiun. Saya lebih suka bertani," ujarnya memberi alasan mengapa tidak berminat kerja di kota.

Terkait penghasilannya, Inan menyebutkan, sebulan dari bertani dan beternak bisa memperoleh lebih kurang Rp5juta dan itu sangat cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya bersama istri dan anak.

"Bahkan masih ada sisanya untuk ditabung," ujar Ketua Poktan Mekar Tani I itu.

Pemuda lulusan Sekolah Menengah Atas (SMA) itu mengakui sebelumnya bekerja sebagai pegawai salah satu tempat wisata selama empat tahun, namun kemudian memutuskan jadi petani karena melihat orangtuanya dapat memperoleh keuntungan cukup besar dari pertanian dan peternakan.

Sejak 2014 kemudian dia aktif menjadi petani sekaligus peternak secara mandiri, tidak lagi membantu orang tuanya, yang sudah dilakukannya sejak kecil.

Menurut Inan, penghasilan utamanya didapat dari penjualan telur bebek, yang dia jual Rp2.000 per butir.

Dalam satu hari, tambahnya, bebek dapat menghasilkan sekitar 110 telur jika sedang dikandangkan dan diberi pakan yang mahal.

Namun, saat bebek sedang digembalakan, telur yang dihasilkan dapat menurun drastis hanya sebanyak 30 butir telur per hari.

Selain dari telur, peternak juga bisa mendapat penghasilan dari penjualan daging bebek, ujarnya, satu bebek dihargai Rp45.000 per ekor atau Rp60.000 untuk bebek yang sudah lebih tua.

Pada 2015 saat awal beternak itik, dia hanya menetaskan sebanyak 30 butir telur namun kini sudah berkembang menjadi 200 ekor

Saat ini dia memiliki lahan pertanian seluas 1000 meter persegi yang dikelola sendiri sehingga tidak lagi menggantungkan pada lahan milik orang tuanya.

Di Desa Singasari, Kecamatan Jonggol, Kabupaten Bogor yang letaknya hanya sekitar 40 km dari DKI Jakarta itu, usaha di sektor pertanian dan peternakan memang masih banyak dilakukan warganya, meskipun pada umumnya usianya sudah di atas 40 tahun.

Salah satunya Kanta, yang menggeluti usaha peternakan sapi selain bertani sawah. Ketua Poktan Ternak Sapi Potong Mekar Tani II, itu mengakui memiliki empat ekor sapi.

Saat ini, populasi sapi yang dimiliki Poktan Mekar Tani II sebanyak 235 ekor dengan beragam jenis, seperti limousin, simmental, dan peranakan ongole.

"Setiap tahun, satu ekor sapi paling tidak melahirkan satu anak. Tiga bulan setelah melahirkan, sapi-sapi ini akan disuntik inseminasi buatan agar kembali bunting," ujarnya.

Kanta menuturkan, dari hasil penjualan pupuk dan hasil tanam taninya, petani bisa memperoleh penghasilan kurang lebih Rp5 juta per bulan.

Ads
Editor:Sisie
Sumber:antaranews.com
Kategori:Ragam
wwwwww