Miris, Guru di Pelosok Hanya Dibayar dengan Ucapan Terima Kasih

Selasa, 28 Februari 2017 11:03 WIB
Sebab, cerita dia, desanya itu masih banyak hutan dan perkebunan. Sehingga tidak memungkinkan anak-anak melintas di kawasan tersebut. Terlebih lagi, jarak tempuhnya mencapai 3 kilometer (km) untuk menuju sekolah di desa tetangga. Ditambah, akses jalan yang masih tanah kuning bercampur lumpur.Berangkat dari kondisi tersebut, lanjut Ahliah, dirinya bersama rekannya, Wiliarni mengajak masyarakat setempat untuk secara bersama membangun SD, di atas lahan tanah miliknya dengan luas sekira 45 x 85 meter.

Di mana seluruh bahan bangunan dibeli secara swadaya atau sumbangan sukarela dari masyarakat. Mulai dari, papan, balok, seng, paku, meja dan kursi belajar serta perlengkapan dan peralatan penunjang lainnya.

''Bangunan sekolah itu dibuat secara swadaya. Bangunan sekolah itu dibangun di atas lahan milik saya yang diwakafkan,'' kata Ahliah, kepada Okezone, belum lama ini.

Ads
''Sejak aktif kami berdua, sama sekali tidak ada menerima honor atau gaji dari orangtua. Kita bekerja secara ikhlas saja. Cukup dengan ucapan terima kasih, hal itu kita alami pada tahun 2006 hingga Juli 2008 lalu,'' sambung Ahliah.

Bangunan sekolah yang jauh dari layak tersebut atau mirip dengan ''kandang kambing'' itu hanya ada beberapa meja dan kursi untuk murid SD, kondisinya sudah reot. Ruangan itu digunakan untuk murid SD Kelas I, II dan Kelas III, yang digunakan secara bergantian dalam proses KBM setiap harinya.

Lebih menyedihkan lagi, ketika musim penghujan seperti saat ini, ruang kelas tersebut banjir. Sebab, atap bangunan sudah mulai bocor. Bahkan, ketika hujan turun dua ruang kelas tersebut akan berlumpur. Tentunya hal tersebut membuat ketidaknyamanan murid SD untuk menerima mata pelajaran dari guru honor yang mengabdi disana.

''Ruang kelas itu digunakan secara bergantian. Bangunan itu dipisahkan dengan pembatas papan antara kelas,'' jelas Ahliah.

Pelajaran yang disajikan kepada murid SD sama seperti murid SD lainnya di Kabupaten Kaur. Sebab, kata dia, hal tersebut sesuai dengan aturan dari Dinas Pendidikan. Begitu juga dengan jam belajar.

''Mata pelajaran tidak ada bedanya dengan murid SD lainnya,'' imbuhnya.

Penginisiasi pembangunan SDN 129 Kaur lainnya, Wiliarni mengatakan, sejak sekolah berdiri hanya ada enam guru. Rinciannya, empat guru yang berstatus honor, dua orang berstatus Pegawai Negeri Sipil (PNS), yakni Kepala Sekolah dan Wakil Kepala Sekolah.

Pengangkatan honor itu, ulas Wiliarni, pada tahu 2008 silam oleh Dinas Pendidikan Kabupaten Kaur, dengan diterbitkannya Surat Keputusan atau SK. Sejak diangkat menjadi honor, aku dia, mereka hanya mendapatkan honor sebesar Rp50 ribu hingga Rp75 ribu setiap bulannya.

Selain itu, tambah dia, sejak berdirinya sekolah hingga saat ini status guru honor sudah menjadi dijalani mereka tidak kurang dari 10 tahun. Namun, status honor tersebut belum begitu mendapatkan perhatian secara serius oleh pemerintah setempat.

''Kita berharap guru di sini juga mendapatkan perhatian dari pemerintah,'' harap Wiliarni.

Selanjutnya, terang dia, pada tahun 2012 dari Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kaur, memberikan bantuan pembangunan dua ruang kelas yang berukruan sekira 10 x 5 meter. Bangunan itu, kata dia, untuk murid kelas 4 dan kelas 5 serta dijadikan ruang kantor.

Namun, sarana pendukung di dalam ruang kelas itu masih terbatas. Mulai dari meja dan kursi untuk murid SD begitu juga dengan meja dan kursi guru. Begitu juga dengan buku pelajaran. Hal tersebut, dikarenakan mereka hanya mengandalkan dana BOS.

''Tahun 2012 dapat bantuan bangunan ruangan. Untuk ruang belajar yang terbuat dari papan itu masih digunakan untuk murid Kelas I, II dan kelas III,'' terangnya.

Saat ini, ujar Wiliarni, murid SDN 129 berjumlah 45 orang. Rinciannya, kelas I sebanyak 4 orang, kelas II sebanyak 8 orang, kelas III sebanyak 10 orang, kelas IV sebanyak 11 orang dan kelas V sebanyak 11 orang.

Sementara, murid kelas VI sejak beberapa tahun terakhir mesti melanjutkan ke SD di desa tetangga lantaran keterbatasan ruangan dan pelaksanaan ujian nasional (unas). Sebab waktu itu, Unas masih menginduk di SD di desa tetangga.

''Untuk tahun ajaran 2017/2018 murid kelas VI sudah ada di sekolah ini. Ujian Nasional akan kita lakukan di SD ini pada tahun ajaran 2018/2019 mendatang,'' pungkas Wiliarni.

Bupati Kabupaten Kaur, Gusril Pausi mengatakan, pemerintah kabupaten (Pemkab) akan serius memperjuangkan kalangan guru-guru di desa terpelosok di desa. Sebab, kata dia, dunia pendidikan sangat penting untuk mendapatkan perhatian yang sama dengan desa-desa lainnya di Kabupaten Kaur.

''Kondisi ini akan kita perhatikan. Terutama pendidikan di pelosok desa. yang jelas, semua kebutuhan dan penunjang akan kita penuhi secara bertahap,'' tutur Gusril.

Editor:Sisie
Sumber:okezone.com
Kategori:Ragam
wwwwww