Cerbung Bagian ke-93

Nikah Siri: Ibu kan Nenek Icha

Nikah Siri: Ibu kan Nenek Icha
Senin, 20 Februari 2017 19:32 WIB
Penulis: Indra Wedhasmara
SEPENINGGAL RUSMAN - Sii dan Rizal sepertinya sedang menelaah dan memikirkan apa yang dikemukakan Rusman sebentar tadi. Sebab, katanya pertemuan keluarga itu tidak melulu fokus pada masalah Icha. Tapi ada yang lainnya. Apakah itu gerangan...?''Menurut abang apakah kira-kira maksud dan tujuan kata-kata Rusman itu..?'' tanya Siti kerah Rizal yang nampak hanya berpeluk tangan dan melihat kearah beberapa keluarga Rusman yang banyak tegak di depan pintu ruang rawat Ibu Rusman.

''Ngak tau lah... Abang maknanya kali ini...'' hanya ini jawaban Rizal.

''Apalagi mau mereka...? Jika nanti masalah Icha dipersoalkan. Siti masih punya pertimbangan. Tapi kalau masalah lainnya. Itu sepertinya, mereka ingin memperpanjang persoalan lagi...?'' Siti bicara sendiri dan tidak ditujukannya bicara itu untuk Rizal.

Ads
''Bingung juga ya...'' hanya ini kata Rizal menyambung kata-kata Siti.

''Siti jadi ngak tenang juga ini Bang...'' Siti nampak sesaat gelisah dengan ungkapan Rusman sebentar tadi. Pasti ada yang penting yang akan dimusyawarahkan antara kedua keluarga besar nanti.

Sesaat terlihat Rusman tergopoh-gopoh keluar menuju kearah Siti dan Rizal.

''Ibu mau ketemu Siti...'' kata Rusman. Siti nampak ragu. Tapi dari isyarat mata Rizal dia seolah diminta agar mengikuti saja keinginan Rusman.

Siti segera tegak dan mengikuti Rusman ke ruang rawat Ibu. Kehadiran Siti di ruangan itu membuat banyak keluarga yang memperhatikan dengan serius. Bahkan ada pula yang saling berbisik. Namun tak jelas apa isi bisikan itu.

Siti perlahan mendekat ke sisi ranjang Ibu lalu mencoba memeluknya. Ibu nampak begitu terharu sekali dengan sikap Siti yang selama ini tak pernah dilakukannya.

''Terimakasih Ti... masih mau menjenguk Ibu'' kata Ibu dengan perlahan setelah dekapan keduanya merenggang.

''Kenapa harus berterimakasih Bu... Ngak perlu lah. Yang Siti temui ini kan nenek Icha... juga...'' terdengar suara Siti lirih. Dia kasihan juga melihat sosok Ibu yang nampak agak kurus. Padahal sebelumnya tubuh Ibu nampak gemuk dan segar.

''Ya... Ibu tau...'' ujar Ibu namun dari sudut matanya ada menyembul air bening dan dari bibirnya yang kering itu seperti ada rasa pahit yang selama ini memoles di situ.

''Bagaimana keadaan Ibu kini'' tanya Siti sambil duduk di kursi sebelah ranjang Ibu.

''Sepertinya baik baik saja...''

''Ibu jangan dulu banyak berkata-kata... Kan masih dalam taraf penyembuhan'' kata Siti sambil menyentuh lengan Ibu dan mengusap-usapnya. Dan itulah karakter Siti sebenarnya. Dia adalah wanita pengasih dan lemah lembut. Dan selalu tak sampai hati dan tega melihat orang yang bersedih. (Bersambung)

Cerita Sebelumnya...

Kategori:Ragam
wwwwww