Cerbung Bagian ke-59

Nikah Siri: Siti Harus Tegar, Jangan Lembek Begitu

Nikah Siri: Siti Harus Tegar, Jangan Lembek Begitu
Minggu, 15 Januari 2017 19:50 WIB
Penulis: Indra Wedhasmara
AKHIRNYA.. memang tak terdengar lagi suara Rusman di seberang. Sambungan telpon seperti dimatikannya. Rizal kemudian menceritakan dialoq yang terjadi tadi dengan Rusman. Dan Siti nampaknya tidak apa-apa. Malah dia nampak begitu mendukung sikap Ruzal itu.''Dia memang harus berhadapan dengan orang-orang seperti abang. Jadi dia tak bisa berbuat sesuka hati. Kalau pun ingin melakukan sesuatu dia harus pikir-pikir dulu,'' Siti beranjak sesaat ke dalam. Rizal duduk lagi duduk lagi di kursi. Sesaat Siti ke luar membawa air putih.

''Minum dulu Bang... Sepertinya nafas abang sesak juga...'' Siti menyodirkan gelas ke arah Rizal dan menyambutnya. Lalu mereguknya. Memang tenggorokannya agak kering kerontang setelah bersitegang urat leher tadinya dengan Rusman.

''Siti takut kalau dia datang malam ini Bang. Gimana ya...?'' ujar Siti setelah duduk di depan Rizal.

Ads
''Abang memang yakin dia bakal datang. Tetapi Siti tak usah gentar. Tutup saja pintu. Jangan pernah dibuka. Dia tak ada hak untuk memaksakan kehendaknya masuk ke rumah tanpa izin yang punya rumah. Kalau dia memaksa juga, Siti ada hak melaporkannya ke penegak hukum,'' kata Rizal, memberikan semangat pada Siti.

''Nanti pun abang akan datang untuk mengecek kemari,'' kata Rizal lagi setelah melihat wajah Siti yang seolah olah didekap rasa takut.

''Siti harus tegar. Jangan lembek begitu. Kalau niat Siti memang tak inginkan di daang. Ya.. sudah. Teguh kan hati. Anggap saja dia itu tidak ada apa-apanya,'' kata Rizal lagi seolah memberikan kekuatan pada Siti agar jangan goyah.

''Ibarat kata orang. Siti ini sudah basah. Yah.. Kuyup saja. Jangan tanggung,'' ujar Rizal memberikan semangat pada Siti yang mulai nampak kuyu. Bahkan wajahnya seolah dicekam kecemasan yang amat sangat.

****

MALAM ITU HARI MENUNJUKKAN PUKUL 20.00. Tapi Siti nampak gelisah. Kali ini dia ditemani Bik Ijah di kamarnya. Wajahnya nampak tegang. Seolah ada sesuatu yang menakutkan bakal muncul di rumah itu.

''Menurut Bibik. Apakah dia datang malam ini'' tanya Siti dengan suara agak serak kearah Bik Ijah yang duduk bersandar di bingkai ranjang di ujung kakinya.

''Tak tau lah Bibik. Namun yang jelas. Kita harus siap-siap lah untuk menghadapi hal terburuk''

''Hal terburuk bagaimana Bik'' sergah Siti.

''Yahhh.. Mana tau dia mendobrak masuk.''

''Tidak mungkin lah Bik...?'' jawab Siti sekedar untuk menenangkan perasaan tak enaknya saja.

''Mudah-mudahan ngak lah... Ini kan perasaan Bibik aja sih..'' Bik Ijah menatap wajah Siti yang nampak begitu cemas. Seolah-olah dia sedang memendam ketakutan yang amat luar biasa. (Bersambung)

Cerita Sebelumnya...

Cerita Selanjutnya...

Kategori:Ragam
wwwwww