Permainan Tradisional Telah Dilupakan

Permainan Tradisional Telah Dilupakan
Ilustrasi
Jum'at, 28 Oktober 2016 10:48 WIB
Penulis: Bambang Edi Susilo
Perkembangan zaman begitu pesat. Ilmu pengetahuan dan teknologi sangat membantu manusia mempermudah segalanya. Bahkan  teknologi  telah membuat perubahan dalam bidang permainan. Permainan-permainan tradisional mulai dilupakan dan ditinggalkan. Anak-anak sekarang lebih menggemari permainan yang berbau teknologi, games dari handphone dan internet.

Anak-anak cenderung menjadi asik sendiri dengan dunianya. Mereka  tidak lagi merasakan proses dari nikmatnya  bekerjasama dengan orang lain, belajar bertoleransi, saling memahami dan memaafkan, pergerakan motorik kasar dan keseimbangan dari kognitif (berfikir) dan afektif (emosi).

Dahulu permainan tradisional sangat digemari anak anak. Dampak permainan tradisional mengajarkan pentingnya sebuah proses dan menyisipkan nilai-nilai kebaikan. Permainan tradisional  melatih anak dalam bersosial. ketangkasan dan motorik anak. Jadi, meskipun zaman telah berubah, akan lebih baik jika anak-anak sekarang diperkenalkan kembali dengan permainan tradisional karena pada intinya baik permainan modern maupun permainan tradisional sama-sama menyenangkan dan memiliki manfaat.

Ada banyak jenis permainan tradisional dari setiap daerah. Diantaranya permainan engrang, galah asin atau gobak sodor dan congklak. Permainan engrang adalah tongkat yang terbuat dari kayu yang digunakan untuk berjalan. Tongkat ini diberi tangga pada jarak tertentu dari ujung bawah tongkat untuk tempat berpijak kaki. Permainan engrang untuk lomba perorangan.

Sedangkan permainan galah asin atau gobak sodor adalah dimainkan secara beregu. Setiap regu bisa terdiri lima orang tergantung luas lapangan yang tersedia. Satu regu akan menjadi penjaga dan regu lainnya akan menjadi penerobos. Inti permainannya setiap anggota regu penerobos harus berusaha melewati hadangan seluruh penjaga gerbang hingga seluruh anggota berhasil melewati gerbang. Permainan akan selesai ketika semua anggota regu penerobos berhasil kembali.

Sementara congklak dimainkan diatas papan yang memiliki lubang-lubang tempat meletakkan biji permainan, seperti ciput. Cara memainkan congklak dimulai dengan membagi biji ke seluruh lubang dengan jumlah sama kecuali lubang yang dijadikan lumbung penyimpanan (lubang ujung kanan dan ujung kiri). Tiap anak menguasai biji-biji yang terdapat pada satu baris di dekatnya.

Selanjutnya secara bergantian anak yang bermain mengambil seluruh biji dalam sebuah lubang kemudian membaginya satu-persatu secara berurutan berlawanan arah jarum jam. Seterusnya hingga pada suatu ketika, biji yang terakhir di letakkan pada lubang kosong milik kita di depan lubang lawan yang berisi biji-biji maka biji-biji lawan pada lubang tersebut menjadi milik kita. Permainan berakhir ketika seluruh biji telah masuk ke lumbung. Anak yang menang adalah yang mengumpulkan biji lebih banyak.

Adakan Festival

Musyawarah Guru Bimbingan Konseling (MGBK) Yayasan Pendidikan Harapan (Yaspendhar) Medan mengajak anak sekolah dasar dan sekolah menengah untuk melestarikan permainan tradisional dengan menyelenggarakan festival permainan tradisional.

Ketua MGBK Harapan Rohani, mengatakan antusiasme terhadap permainan tradisional cukup baik, hanya saja anak-anak kurang memahami tata cara permainan tradisional tersebut. MGBK Harapan bekerjasama dengan Dusun Kreatif sebagai motivator permainan tradisional.

MGBK membuat festival permainan tradisional berkaitan dengan hari ulang tahun Yaspendhar ke 49 tahun beberapa waktu lalu. Dengan mengundang 60 sekolah dasar dan 60 sekolah menengah pertama yang ada di kota Medan “Kami mengharapkan partisipasi siswa untuk kelestarian permainan ini”ujar Rohani.

Adapun yang diperlombakan tiga jenis permainan tradisional diantaranya bermain engrang, galah asin atau gobak sodor dan congklak untuk siswa SD dan SMP. Perlombaan mewarnai dan hafalan surat pendek untuk anak taman kanak-kanak. Perlombaan diikuti 500 anak taman kanak-kanak dan 200  siswa SD dan SMP.

Ketua Harian  Yaspendhar Medan Tapi Rondang Ni Bulan menyambut baik festival permainan yang diselenggarakan dan mengatakan permainan tradisional mengajarkan hal kebersamaan, kejujuran, kreatifitas dan hati yang riang gembira dengan gerakan yang dinamis. Namun, hampir 50% siswa yang diundang tidak memahami permainan tradisional. Bahkan seorang guru mengatakan,”Kami saja gurunya tidak tahu dengan permainan tradisional, apalagi murid kami”, ujarnya pesimis.

Phil  Ichwan Azhari,  sosiolog pemerhati permainan tradisional, musik, tari dan lagu tradisional merasa senang ketika ada sekolah yang membuat festival permainan tradisional.

“Belum pernah ada kegiatan festival permainan tradisional, saya senang sekali dan menyarankan setiap tahun diadakan lomba ini agar membudaya kembali di tengah-tengah masyarakat kita”ungkapnya.
Ads
Editor:Arif
Kategori:Ragam
wwwwww