Home >  Artikel >  Opini

Penurunan Produksi Jeruk jadi PR bagi Masyarakat Karo

Penurunan Produksi Jeruk jadi PR bagi Masyarakat Karo
Kamis, 10 Oktober 2019 10:16 WIB
Penulis: Nolla Ginitng
Letusan Gunung Sinabung merupakan salah satu bencana yang telah mengganggu masyarakat di Kabupaten Karo dalam kurun waktu cukup panjang. Letusan ini dimulai pada tahun 2010 diawali dengan keluarnya asap dan abu vulkanik hingga naik ke level 4 awas kemudian turun kembali menjadi level 3 siaga pada pertengahan tahun 2019.

Dewasa kini aktivitas tidak beraturan dari Gunung SInabung masih menjadi problema bagi masyarakat dan pemerintah setempat. Masyarakat dihantui perasaan waswas dan ketakutan karena letusan ini tidak bias diprediksi datangnya.

Belum lagi letusan Gunung Sinabung cukup memberikan efek negatif bagi aktivitas sehari-hari masyarakat setempat, terutama bagi para petani yang lahannya diselimuti abu tebal. Petani merupakan pekerjaan utama masyarakat yang tinggal di Kabupaten Karo. Menurut BPS Kabupaten Karo lebih dari 72 persen penduduk tercatat sebagai rumah tangga pertanian (2014).

Para petani sering kali terancam gagal panen akibat tanaman-tanaman di lahan mereka terselimuti abu tebal sehingga ada tanaman yang gagal tumbuh, rusak dan ada pula yang sudah memasuki masa panen namun tidak laku di pasaran karena terselimut abu vulkanik. Salah satu komiditi yang terkena dampak adalah komoditi buah jeruk.
Ads

Produk jeruk yang menjadi ciri khas kabupaten ini dikenal dengan sebutan Jeruk Berastagi, yang dinamai sesuai nama salah satu kecamatan di Kabuapten Karo. Jeruk berastagi merupakan jenis jeruk WNO (Washington Navel Orange), namun karena ditanam di daerah berastagi, jeruk ini lebih dikenal dengan sebutan jeruk berastagi.

Komoditi jeruk ini menjadi salah satu produksi terbesar di Kabupaten Karo dan cukup dikenal masyarakat luar daerah. Hingga dalam suatu artikel Kepala Badan Hayati Karantina Pertanian , Ir. Islana Ervandiari pernah menyebutkan bahwa jeruk ini masih termasuk ‘The Best’ jeruk di Indonesia.

Akibat dari dikenalnya komiditi ini di luar daerah pemasran komoditi ini tidak hanya terbatas dalam daerah saja namun hingga keluar daerah seperti Jakarta. Meski demikian pemasaran komoditi masih kurang efisien dan luas karena jarak tempuh yang cukup jauh menyebabkan sulitnya jeruk ini sampai di luar daerah dalam keadaan segar.

Kenapa terjadi penurunan produksi? Komoditi jeruk ini membutuhkan perawatan yang cermat dan kontinu. Sedikit kelalaian dapat menyebabkan jeruk rusak atau hasil panen berkurang . Perawatan Jeruk ini membutuhkan siniar matahari penuh, suhu antara 25-30 dan kelembapan udara sekitar 50 hingga 80 persen.

Berbagai fakor pendukung pertumbuhan komoditi ini jika ada yang tidak terpenuhi tentu menyebabkan hasil panen tidak optimum. Hal inilah yang menjadi kepedulian para petani saat terjadi letusan yang menimbulkan abu vukanik.

Saat terjadi letusan suhu dan kelembapan udara akan berubah dan kemungkinan terjadi hujan abu vulkanik tinggi. Saat terjadi hujan abu vulkanik mulai dari daun, buah hingga batang jeruk tertutup abu. Kondisi saat buah jeruk tertutup abu akan menyebabkan pemasaran produk ini akan berkurang dikarenakan banyak pembeli tidak ingin membeli jeruk yang tertutup abu. Jika petani ingin membersihkan jeruk dari abu dibutuhkan air yang cukup banyak mengingat batang komoiditi ini cukup tinggi sehingga hal ini jarang menjadi pilihan para petani. Para petani lebih sering pasrah menunggu datangnya hujan agar tumbuhan bersih secara alami.

Selain menutupi buah seringkali abu vulkanik menutupi organ-organ lain dari tanaman ini seperti daun dan batang . Saat ini terjadi kebutuhan mereka akan sinar matahari kurang terpenuhi dan proses fotosintesis pun terganggu. Hal ini memicu berkurangnya buah jeruk yang dihasilkan tiap batang pohon hingga para petani yang gagal panen.

Berdasarkan data BPS Kabupaten Karo produksi jeruk berastagi terus menurun dari tahun ke tahun. Hal ini dimulai sejak letusan Sinabung yang pertama di tahun 2010 hingga tahun 2018.

Penurunan hasil produksi ini terjadi secara drastis di tahun 2010 hingga 2013. Dimana pada tahun 2010 produksi jeruk mencapai 890091 ton namun turun hingga hampir 70 persen di tahun 2012,dengan angka 502493 ton. Ditahun berikutnya terjadi peningkatan produksi namun tidak meutupi penurunan yang terjadi di tahun sebelumnya dan usai periode tersebut angka produksi jeruk terus menurun secara pasti hingga menyentuh jumlah produksi hanya 118929 ton di tahun 2018.

Hal ini menjadi concern bagi para petani maupun pemerintah daerah. Diperlukan solusi yang tepat agar produksi jeruk dapat ditingkatan di kondisi alam yang saat ini terjadim. Salah satu solusi yang mungkin dilakukan adalah pengembangan metode perawatan jeruk agar jeruk dapat beradaptasi di lingkungan yang ekstrim. Pengembangan metode ini bukan hanya menjadi tugas pemerintah setempat melainkan juga masyarakat khusunya para petani yang notabenenya berhubungan langsung dengan kasus ini.

Selain solusi ini tentunya diperlukan berbagai solusi lain untuk mengatasi masalah ini. Solusi ini harus dipikirkan oleh pihak masyarakat dan pemerintah layaknya murid mencari solusi untuk pekerjaan rumah , atau dengan kata lain tumbuhkan anggapan bahwa jika masalah ini tidak diatasi akan ada sanksi yang diterima. Sehingga banya pihak akan lebih terpacu untum mengembangkan jeruk sebagai upaya peningkatan produksi.

Di sisi lain Saat PR ini selesai akan diterima hadiah yang sesuai yaitu kemajuan besar bagi pertanian di daerah Karo yang tentunya bedampak positif bagi setiap individu yag berdomisili di Kabupaten Karo.*
Editor : Sisie
Kategori : Opini
www www