Home >  Artikel >  Opini

Turun Naik Nasib Kota Salak

Turun Naik Nasib Kota Salak
Ilustrasi arief26.blogsport.com
Rabu, 02 Oktober 2019 17:28 WIB
Penulis: Oleh: Nurul W Tarihoran
Dilihat-menurut provinsi, Sumatera Utara merupakan provinsi dengan produksi salak terbesar kedua setelah Jawa Tengah. Daerah di Sumatera Utara yang dijuluki sebagai kota salak adalah kota Padangsidimpuan. Julukan ini terlihat dari Padangsidimpuan yang tidak pernah absen menjadi persinggahan untuk membeli oleh-oleh buah dengan kulit bagai sisik ular ini.

Layaknya kata jeruk yang disematkan pada Berastagi, salak pun disematkan pada Padangsidimpuan sebagai penanda ciri khasnya. Banyak sekali argumentasi mengenai berlimpah-ruahnya salak Padangsidimpuan baik produksi sampai ekspor ke berbagai daerah di Indonesia hingga luar negri.

Ya, kita memuja komoditas hortikultura ini. Namun, mengapa salak Padangsidimpuan jarang sekali kita dengar popularitasnya pada taraf nasional? Benarkah produksi salak Padangsidimpuan demikian cemerlangnya?

Kota Salak
Ads

Menurut Badan Pusat Statistik (BPS), pada 2018 produksi salak Sumatera Utara didominasi oleh kabupaten Tapanuli Selatan, dengan persentase produksi 82,87 persen. Sementara itu, kabupaten/kota lainnya hanya memberikan kontribusi 17,13 persen terhadap total produksi salak Sumatera Utara. Bahkan, Padangsidimpuan hanya memberi kontribusi sebesar 0,29 persen dari total produksi salak Sumatera Utara.

Data BPS ini tampaknya memperkuat makna tersirat pada lirik lagu ‘Salak Sibakua’ berikut: “Di oban ma... Tu Sidimpuan.” “Ima na ni dokon kota salak...”, Terdapat pengertian implisit bahwa meski Tapanuli Selatan menghasilkan produksi salak terbesar, akses terhadap pasar milik pedagang Padangsidimpuan menjadikan predikat kota salak disematkan pada kota yang luasnya kurang dari tiga persen luas Tapanuli Selatan ini.

Sistem Produksi

Produksi salak Tapanuli Selatan sebenarnya cukup fluktuatif. Dalam tiga tahun terakhir terjadi kenaikan 116,18 persen dari 257.036,45 ton pada 2016 menjadi 555.674,34 ton pada 2017. Namun, pada 2018 produksi anjlok sampai 55 persen menjadi 250.002,26 ton. Fluktuasi produksi salak jelas tidak bisa dianggap sepele mengingat pertumbuhan ekonomi sektor pertanian Tapanuli Selatan sangat dipengaruhi oleh komoditas ini. Hal ini terlihat dari pergerakan angka PDRB lapangan usaha pertanian Tapanuli Selatan justru mengikuti pola produksi salak dan bukan padi.

Produksi salak yang fluktuatif ini menjadikan petani salak tidak bisa bergantung pada hasil panen buah salak saja. Tren produksi padi yang cenderung mengalami kenaikan dari tahun 2011 sampai 2018 perlu menjadi perhatian pemerintah. Sebab, menurut data sensus penduduk 2010, persentase penduduk usia kerja yang bekerja pada lapangan usaha pertanian tanaman pangan adalah 41,69 persen sementara pada lapangan usaha tanaman hortikultura (sayur-sayuran, buah-buahan, tanaman biofarmaka dan tanaman hias) hanyalah 8,13 persen.

Tidak ada yang salah dengan peningkatan produksi padi Tapanuli Selatan. Namun, jika seiring peningkatan terdapat penurunan produksi salak secara signifikan pemerintah patut melakukan intropeksi pada kinerja pertanian salak Tapanuli Selatan. Meski sejak dulu Tapanuli Selatan memiliki potensi salak yang besar, kebutuhan pangan tetap menjadi kebutuhan utama sehingga sangat mungkin terdapat indikasi bahwa petani salak berpindah menjadi petani sawah demi menjamin pangan dibanding menjadi petani buah salak yang naik turun nasibnya.

Dalam penghitungan data statistik produksi dikenal pula istilah ‘produktivitas’. Angka produktivitas menjelaskan sebenarnya menghasilkan berapa banyak sih setiap hektar lahan yang ditanami salak. Sayangnya, buah salak yang dihasilkan tiap hektar juga mengalami tren yang menurun dengan rata-rata penurunan 7,08 persen sepanjang tahun. Semakin sempitnya lahan perkebunan dan peralihan lapangan usaha karena fluktuasi produksi salak kemungkinan besar menjadi penyebab turunnya produktivitas.

Sistem Tata Niaga

Selain produksi dan produktivitas tadi, masalah petani salak yang sesungguhnya terdapat pada tata niaga dari si buah salak itu sendiri. Adakah dari kita yang merasakan mahalnya buah salak yang ditawarkan di pasar Padangsidimpuan? Lagi-lagi menurut data BPS, per tahun 2018 rata-rata harga ecer salak di pasar Padangsidimpuan berada pada kisaran 10000-15000 per kilogram meski sering pula didapati harga diatas 20000 per kilogramnya. Namun, sudahkah kita tahu harga jual salak di tingkat petani salak begitu rendah yaitu berkisar 1000-3000 rupiah per kilogram?

Setiap musim panen, sebagian besar petani salak Tapanuli Selatan melakukan jual beli langsung di lahan perkebunan dengan pedagang pengumpul atau yang sering disebut sebagai tengkulak. Mengapa tengkulak? Petani salak tidak punya cukup akses dan informasi yang baik tentang pasar, belum lagi ciri khas dari tanaman hortikultura yang mudah rusak membuat petani salak mau tidak mau harus cepat menjual hasil panennya.

Kondisi tersebut membuat petani salak memiliki daya tawar yang rendah terhadap salak. Tengkulaklah pemilik kuasa yang besar terhadap penentuan harga salak. Memang, terdapat petani salak yang langsung menjual hasil panennya di pekarangan rumah sepanjang jalan lintas Padangsidimpuan sampai perbatasan Tapanuli Tengah, menunggu konsumen singgah dengan harapan menukarkan buahnya dengan harga yang lebih tinggi. Namun, tampaknya hal ini bukanlah sebuah solusi. Tetap tidak ada jaminan bahwa semua hasil yang petani salak kita tanam akan laku terjual sebelum rusak.

Pekerjaan rumah kita

Perubahan kebijakan menjadi demikian penting dan strategis untuk meningkatkan efisiensi sistem produksi dan tata niaga hortikultura, sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani (BPS, 2013).

Hal ini juga berlaku untuk salak, apalagi komoditas ini merupakan komoditas strategis di Sumatera Utara, khususnya di Tapanuli Selatan. Perlu keseriusan pemerintah dalam membangkitkan nasib pertanian salak Tapanuli Selatan yang menurun performanya dari tahun ke tahun ini. Kesungguhan pemerintah dalam menggenjot potensi salak Padangsidimpuan akan memberi dampak ekonomi yang besar serta peningkatan pendapatan petani dan pelaku usaha pengolahan turunannya. Pemerintah dapat saja mengambil langkah berani misalnya investasi melalui BUMN bidang perkebunan serta menggandeng sektor swasta demi mencapai titik optimum pada produksi salak.

Satu lagi yang tidak kalah pentingnya yaitu memperpendek rantai distribusi dari petani salak di Tapanuli Selatan untuk sampai pedagang di pasar Padangsidimpuan. Pemerintah daerah Tapanuli Selatan dan Padangsidimpuan perlu memberlakukan sistem tata niaga yang jelas pada komoditas ini agar terdapat kepastian dan efisiensi dalam pemasaran produk-produk petani salak. Jika sudah terdapat sistem tata niaga yang lebih efisien, petani kita dapat terhindar dari tengkulak nakal dan harga pada tingkat petani salak diharapkan dapat lebih tinggi. Selain itu, perlu mengganti paradigma masyarakat yang cenderung menyukai buah impor di toko-toko retail daripada buah lokal di pasar Padangsidimpuan dalam pemenuhan kebutuhan nutrisi buah-buahan.

Masalah produksi salak Padangsidimpuan adalah pekerjaan rumah bagi semua pihak. Pemerintah provinsi Sumatera Utara, kabupaten Tapanuli Selatan serta kota Padangsidimpuan diharapkan mampu menghasilkan kebijakan yang berpihak kepada petani salak. Dalam rangka menghasilkan kebijakan yang tepat, diperlukan koordinasi antarinstansi pemerintahan dalam menghasilkan data pertanian salak yang dapat diandalkan. Tak kalah pentingnya pula partisipasi lembaga non-profit serta masyarakat dalam mendukung dan melakukan pengawasan terhadap proses menuju kebijakan pertanian salak yang baik ini.

Ketidakjelasan nasib petani akibat ketidakjelasan pasar membuat petani perlahan meninggalkan usaha bidang ini. Apakah masyarakat Tapanuli Selatan terutama sanggup melepas peluang usaha dalam komoditas ini? Apakah Padangsidimpuan masih dapat menyebut diri sebagai kota salak ditengah nasib petani salaknya yang turun naik lagi terhempas pasar? Jika kita memilih untuk berbenah saya rasa waktunya adalah sekarang.

Penulis adalah mahasiswa asal Padangsidimpuan yang sedang berkuliah di Politeknik Statistika STIS, Jakarta Timur.*
Editor : Sisie
Kategori : Opini
www www