Home >  Artikel >  Opini

Harga Cabai Merah yang Semakin Pedas

Harga Cabai Merah yang Semakin Pedas
Mujiono
Senin, 05 Agustus 2019 10:19 WIB
Penulis: Mujioo, SE
SEJAK Maret sampai dengan Juli 2019, cabai merah selalu menjadi komoditas yang menyumbang inflasi di Riau. Kenapa cabai merah selalu menyebabkan inflasi di Riau?Menurut Bank Indonesia, Inflasi merupakan suatu keadaan meningkatnya harga produk/jasa disuatu wilayah pada periode tertentu yang disebabkan oleh banyak faktor, diantaranya adalah meningkatnya konsumsi atau permintaan masyarakat terhadap produk tersebut.

Inflasi yang rendah dan stabil merupakan prasyarat bagi pertumbuhan ekonomi yang berkesinambungan yang pada akhirnya memberikan manfaat bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Pentingnya pengendalian inflasi didasarkan pada pertimbangan bahwa inflasi yang tinggi dan tidak stabil memberikan dampak negatif kepada kondisi sosial ekonomi masyarakat. Pertama, Inflasi yang tinggi akan menyebabkan pendapatan riil masyarakat akan terus turun sehingga standar hidup dari masyarakat turun dan akhirnya menjadikan semua orang, terutama orang miskin, bertambah miskin.

Ads
Kedua, Inflasi yang tidak stabil akan menciptakan ketidakpastian (uncertainty) bagi pelaku ekonomi dalam mengambil keputusan. Pengalaman empiris menunjukkan bahwa inflasi yang tidak stabil akan menyulitkan keputusan masyarakat dalam melakukan konsumsi, investasi, dan produksi, yang pada akhirnya akan menurunkan pertumbuhan ekonomi.

Ketiga, tingkat inflasi domestik yang lebih tinggi dibanding dengan tingkat inflasi di negara tetangga menjadikan tingkat bunga domestik riil menjadi tidak kompetitif sehingga dapat memberikan tekanan pada nilai rupiah.

Sumbangan Cabai Merah pada Inflasi

Fenomena cabai merah yang selalu menjadi penyebab utama inflasi di Riau telah terjadi sejak tahun 2016. Pada Maret 2018, cabai merah mengalami kenaikan harga dengan menduduki peringkat pertama dalam top ten komoditas penyumbang inflasi Riau dengan sumbangan sebesar 0,28 persen.

Sama dengan kondisi 2016-2017, bulan Agustus – Oktober tahun 2018 cabai merah juga menduduki peringkat pertama penyebab inflasi Riau. Pada bulan Agustus cabai merah menyumbang inflasi sebesar 0,23 persen, September 0,07 persen, kemudian pada Oktober sebesar 0,41 persen.

Tidak jauh berbeda dengan kondisi tahun 2018, cabai merah kembali membuat gelisah masyarakat Riau pada tahun 2019. Fenomena cabai merah kembali mengukir prestasi dengan selalu menduduki peringkat pertama dalam top ten komoditas penyumbang inflasi Riau.

Jika pada bulan April 2019 cabai merah hanya menyumbang inflasi sebesar 0,13 persen, maka pada bulan Juni dan Juli 2019 cabai merah mampu menyentuh rekor sebesar 0,82 persen dan 0,63 persen.

Kenaikan harga cabai merah selalu menjadi topik hangat serta menjadi isu utama di media cetak dan elektronik di Riau. Kenapa harga cabai merah tidak stabil dan cenderung naik tinggi serta selalu menyumbang inflasi? Kata kunci terjadinya kenaikan harga pada komoditas tersebut terletak pada ketersediaan cabai merah belum sepenuhnya mencukupi kebutuhan masyarakat Riau.

Pertama, tingkat kebutuhan masyarakat terhadap cabai merah sangat tinggi. Tersedianya komoditas ini dirumah tangga menjadi keniscayaan. Realita menunjukkan, ketersediaan cabai merah di pasaran terkadang tidak sebanding dengan kebutuhan masyarakat, bahkan kelangkaan terjadi sehingga mengakibatkan harga komoditas ini melambung.

Kedua, produksi cabai merah di Riau belum sepenuhnya mampu mencukupi kebutuhan masyarakat. Ketersediaan produksi yang cukup menjadi suatu keharusan disuatu wilayah mengingat komoditas ini sangat dibutuhkan oleh masyarakat. Data BPS berdasarkan survei pertanian hortikultura menunjukkan bahwa produksi cabai merah besar tahun 2018 hanya sebesar 17 323,9 ton.

Pada tahun 2018, jumlah rumah tangga di Riau berkisar 1,6 juta rumah tangga. Produksi pada tahun 2018 ini hanya mampu memenuhi sekitar 10,6 kg per tahun per rumah tangga, atau hanya sebesar 0,88 kg per bulan per rumah tangga dan belum termasuk kebutuhan cabai merah oleh hotel, restoran dan rumah makan serta penyedia jasa akomodasi lainnya yang ada di Riau. Ketiga, jalur distribusi antar wilayah masih belum stabil.

Permasalahan cuaca sangat berpengaruh pada lancarnya jalur distribusi dari daerah penghasil menuju wilayah Riau. Jalan yang rusak, banjir dan longsornya jalan sangat menentukan lancarnya pasokan cabai merah dipasaran.

Akhirnya, mengingat bahwa produksi kita belum sepenuhnya mampu memenuhi kebutuhan kita sendiri sebagai akibat dari konsumsi masyarakat yang tinggi, gagal panen dan lain-lain, maka sudah seharusnya Pemerintah Provinsi Riau melalui dinas-dinas terkait mengambil langkah-langkah strategis dalam upaya menjaga agar stok cabai merah cukup dan mudah didapatkan masyarakat dengan harga yang murah.

Peningkatan produksi cabai merah dapat dilakukan dengan memanfaatkan lahan-lahan tidak produktif yang tersebar di wilayah Riau. Di samping itu, upaya penyediaan bibit unggul, bantuan pupuk serta bimbingan melalui dinas terkait kepada masyarakat sangat diperlukan agar produksi cabai merah meningkat. Upaya menumbuhkan budaya masyarakat menanam cabai merah dan tanaman lain pada halaman rumah perlu digalakkan kembali. Semakin banyak masyarakat yang menanam setidaknya mengurangi kebutuhan masyarakat dipasaran, sehingga permintaan akan cabai merah menurun.

Selain itu, jalan penghubung antara Provinsi Riau dengan Provinsi tetangga harus tetap dijaga agar tetap lancar dan bebas hambatan. Kebijakan perbaikan jalan yang rusak baik disebabkan oleh banjir dan longsor serta faktor-faktor lain harus menjadi perhatian serius Pemerintah Daerah Riau melalui dinas-dinas terkait agar jalur distribusi tetap lancar. Dengan lancarnya transportasi, maka pasokan cabai akan cukup dan murah serta mudah diperoleh masyarakat. Semoga.***

Mujiono, SE adalah Statistisi Ahli BPS Provinsi Riau.

Kategori : Opini
www www