Home >  Artikel >  Opini

Aku adalah Engkau dan Engkau adalah Aku

Minggu, 06 Januari 2019 22:21 WIB
Penulis: Drs H Iqbal Ali, MM
Aku adalah Engkau dan Engkau adalah Aku H Iqbal Ali
JUDUL di atas mengingatkan kita bahwa kita adalah bersaudara, walaupun kita berbeda-beda. Kita diciptakan Allah dalam perbedaan-perbedaan, beda suku, beda agama, beda bentuk, beda kemampuan dan seterusnya.Perbedaan tersebut sudah merupakan sunnatullah. Padahal seandainya Allah menghendaki, niscaya Allah akan menjadikan umat manusia ini umat yang satu; satu keyakinan, satu bangsa, satu suku dan satu pendapat (Alquran, Hud 118).

Ternyata perbedaan pendapat dalam segala aspek kehidupan manusia merupakan satu fenomena yang telah lahir bersamaan dengan lahirnya masyarakat itu dan hanya akan berakhir dengan berakhirnya masyarakat itu yaitu kiamat kelak.

Umat Islam tidak terkecuali dari fenomena tersebut, khususnya dalam pelaksanaan beribadah. Malah sejak zaman Nabi Muhammad perbedaan pendapat dalam beribadah sudah ada.

Ads
Penyebab timbulnya perbedaan pendapat dalam beribadah adalah; Pertama, dari penafsiran redaksi ayat-ayat dan hadis Nabi. Ada perbedaan qiraat bacaan yang menimbulkan perbedaan makna, bahkan kesamaan redaksi ayat atau hadispun dapat menimbulkan perbedaan penafsiran.

Memang tidak seorangpun yang dapat memastikan maksud yang sebenarnya dari suatu redaksi kecuali pemiliknya. Sehingga pengertian yang dipahami pembaca dapat saja bersifat relatif.

Satu kalimat dapat dipahami dalam arti hakiki dan juga dalam arti majazi. Bisa-bisa pemahamannya bertolak belakang seperti contoh kalimat berikut; Saya juga belum makan. Bisa diartikan masih kenyang, bisa diartikan sedang lapar dan bisa juga jangan habiskan makanan itu.

Kedua, penyebabnya adalah; satu riwayat hadis boleh jadi diketahui atau diakui oleh seorang ulama, tapi tidak diketahui atau tidak diakui kesahihannya oleh ulama lain, sehingga juga menimbulkan perbedaan pendapat.

Berbeda pendapat tidak masalah, yang menjadi masalah adalah perbedaan itu menimbulkan perpecahan, rapuhnya persatuan, malah menuju kepada permusuhan.

Padahal Allah selalu mengingatkan; La Tafarraqu, Innamal mukminan ukhwatun. (orang mukmin itu bersaudara). Kita tidak boleh lupa bahwa yang menetapkan atau yang tahu dan benar itu hanyalah Allah semata.

Para ulama kontemporer dan pemikir umat sependapat menawarkan konsep untuk memantapkan ukhuwah menyangkut perbedan pemahaman. Pengamalan ajaran Islam Antara lain Konsep Tanawwual Ibadah.

Konsep ini mengakui keragaman cara beribadah yang pernah dipraktekkan Nabi, selama semua merujuk kepada rasul. Dalam konsep ini Islam tidak bertanya 5 + 5 berapa ? tapi bertanya 10 sama dengan berapa + berapa. Konsep lain yaitu; Laa Hukma lillahi Qabla ijtihad almujtahid. Allah belum menetapkan suatu hukum sebelum upaya seseorang ada.

Hasil ijtihadlah yang menjadi yang merupakan ketetapan hukum Allah baginya, walaupun berbeda sesamanya. Yang penting seseorang betul-betul maksimal berijtihad (banyak membaca, banyak berdiskusi dst)

Jika konsep diatas kita pahami, akhirnya kita akan sepakat untuk berbeda pendapat atau kita menyadari bahwa berbeda pendapat itu boleh-boleh saja, karena memang kehendak Allah.

Dengan demikian, insyaallah saling tuding, saling menyalahkan, saling mengklaim pendapatnya yang benar akan terhindar dan kita tahu semuanya itu adalah biang kehancuran umat. (ingat sejarah islam zaman kehancuran karena taqlid buta). Oleh sebab itu marilah kita sama-sama bersikap rendah hati, jangan congkak apalagi sombong.

Mudah-mudahan kalimat di bawah ini membawa kesejukan dan ketenangan dalam menjalankan ibadah terhadap ajaran agama kita yaitu Islam: Pendapat kami benar, tapi boleh jadi keliru dan pendapat anda menurut kami keliru tapi boleh jadi benar. Aku adalah engkau dan engkau adalah aku

Kita tetap bersaudara walaupun berbeda. Insya Allah umat Islam selalu kompak, bersatu dan berwibawa.***

H Iqbal Ali adalah Ketua Dewan Pembina IKMR Riau/Mubaligh IKMI

Kategori : Opini
www www