Opini

Hindari Politik Adu Domba di Pilkada Serentak

Jum'at, 16 Desember 2016 23:00 WIB
Penulis: H Mulyadi
Hindari Politik Adu Domba di Pilkada SerentakH Mulyadi

APA yang diwariskan penjajah Belanda, yang selama 350 tahun di Indonesia secara fisik telah berakhir. Akan tetapi dari sisi mental dan moral masih membekas di bumi jajahan Belanda ini. Peristiwa seperti yang berbau Sukuisme, Agama, Ras dan Antar golongan (SARA) belum seluruhnya hapus dari persada. Sehingga dengan mudah sesama suku dan kelompok masyarakat dipecah belah. Mulanya melalui isu-isu yang kelihatannya sepele, tapi karena ditiupkan terus menerus menjadi meluas. 

Contohnya,peristiwa kecelakaan lalu lintas yang melibatkan dua etnis kelompok masyarakat, meskipun awalnya tidak meluas namun dengan hasutan dan provokasi jadi membara. Hal itu disebabkan adanya unsur provokasi dan campur tangan yang membuat suasana menjadi ricuh. Meskipun awalnya tidak ada yang krusial, namun karena terjadinya provokasi yang terus menerus menjadi meluas.

Contoh-contoh lainnya bisa terjadi dilingkungan sosial, seperti pertikaian yang melibatkan 2 orang yang berbeda Agama. Akibat adanya hasutan yang terus menerus konflik yang sebenarnya yang tidak besar, justru menjadi melebar. Banyak lagi contoh-contoh lain yang bermula dari kesalahpahaman atau tidak menguasai masalah dengan baik bisa menjadi pemicu perseteruan. Apalagi suasana menjadi kisruh, karena unsur-unsur lain yang memperkeruh keadaan. Misalnya pemberitaan Medsos yang bernada memprovokasi dan tidak didukung fakta-fakta obyektif. Sehingga berita atau ulasan yang muncul, lebih banyak ketidak benaran.

Menghadapi Pilkada serentak tahun 2017 ini, diperlukan kewaspadaan masyarakat agar tidak terjebak pada hal-hal yang berbau SARA. Inilah tugas yang harus diperhatikan seluruh komponen masyarakat agar tidak ditunggangu oleh oknum-oknum yang memperkeruh suasana. Untuk itu kerjasama semua unsur masyarakat, aparat keamanan, Panwaslu dan pihak-pihak terkait bisa berjalan dengan baik. Yang perlu juga diperhatikan, agar kasus penistaan agama yang terjadi di Pulau Seribu, yang melibatkan Gubernur Petahana Basuki Tjahaya Purnama (Ahok) agar bisa dikurangi intensitasnya di lingkungan masyarakat. Karena penanganan kasus ini sudah ditangani aparat penegak hukum. Bahkan tokoh-tokoh Ormas Islam dari NU, Muhammaddiyah dan lain-lain mengharapkan agar penyelesaian kasus Ahok tidak berlarut-larut yang membuat suasana makin kisruh. Disinilah perlunya kedewasaan semua pihak yang terlibat, sehingga mampu bekerja dengan akal pikiran sehat, tidak emosional dan jauh dari perasaan sentimen pribadi dan kelompok atau golongan.

Jakarta sebagai barometer Pilkada di Indonesia, hendaknya benar-benar dapat memperhatikan unsur-unsur kebhinekaan, persatuan dan kekompakan masyarakat. Artinya jangan sampai mudah dipecah belah oleh oknum-oknum yang ingin memperkeruh suasana, dan tidak mustahil ditunggangi oknum-oknum teroris, perusuh dan kelompok nihilis. Dengan demikian menjadi dambaan masyarakat agar Pilkada DKI sebagai barometer bisa berjalan dengan baik. Demikian pula perlunya mengutamakan prinsip-prinsip musyawarah dan menghindarkan sifat egois yang berlebihan.

Melihat Perspektif sejarah perjuangan Republik Indonesia, sebenarnya yang membuat menjadi kokoh adalah unsur kebersamaan dan pengorbanan dengan meninggalkan egoisme yang berlebihan. Bahkan Republik Indonesia bisa kokoh berdiri karena adanya azas kebhinekaan, persatuan dan kekompakan. Prinsip-prinsip tersebut masih relevan dilakukan pada saat Pilkada. Apalagi Jakarta menjadi etalase kehidupan demokrasi. Sehingga provinsi-provinsi lainnya bisa mengikuti dengan baik dan tidak sepotong-sepotong. Mengambil pelajaran dari kasus Ahok yang terjadi di Pulau Seribu, masyarakat diharapkan agar bisa menunggu proses hukum dengan suasana yang damai dan harmonis.

Dari gambaran yang terjadi di Jakarta pasca kasus di Pulau Seribu ada sejumlah pelajaran menarik. Pertama, janganlah kita mencoba menafsirkan sesuatu yang sakral seperti agama terutama yang bukan di ranah kita. Yang kedua, perlunya koordinasi dan sinkronisasi dengan pihak-pihak yang mengerti tentang masalah keagamaan. Yang ketiga, menghadapi situasi yang penuh dinamika, hendaknya tetap mengutamakan kepala yang dingin dan tidak mudah terpancing emosi. Selamat menjalankan Pilkada Serentak 2017. Semoga berjalan lancar dan damai.  Amin.***

H Mulyadi adalah wartawan senior tinggal di Pekanbaru.

Ads
Kategori:Opini
wwwwww