Ahok, Reaksi Umat dan Aksi 411

Ahok, Reaksi Umat dan Aksi 411
Senin, 07 November 2016 09:58 WIB
Penulis: Imam Shamsi Ali
Oleh : Imam Shamsi Ali*

Nama Ahok go global. Sejak Ahok menjadi wakil gubernur DKI nama Ahok menjadi populer. Saya pribadi tidak pernah kenal nama Ahok sebelumnya. Tiba-tiba saja nama itu melejit karena menggandeng nama populer, seorang calon presiden RI, yang saat itu masih menjabat sebagai seorang walikota Solo.Melejitnya nama Ahok itu bertambah ketika sikapnya memperlihatkan karakter kontras dari orang yang didampinginya. Bahkan nampak sikap itu meremehkan posisi dasar "bosnya" yang sopan, santun, dan yang terpenting seharusnya memiliki kebijakan yang "berpihak rakyat".

Tapi nama Ahok semakin melejit kepopulerannya, bahkan go international, dua minggu lalu ketika menyampaikan pernyataan bahwa umat ini "dibohongi" dengan ayat Al-Quran (Al-Maidah: 51). Pernyataan itu mengundang reaksi tidak saja dalam negeri, di seluruh tanah air, tapi seluruh dunia.

Jadilah nama Ahok "go international" karena Al-Quran.

Reaksi Dunia

Sejak kejatuhan durian menggantikan Jokowi menjadi gubernur Jakarta Ahok menjadi "buah bibir" dunia internasional. Sebagian melihatnya sebagai fenomena positif. Betapa tidak, sebuah negara dengan penduduk terbesar Muslim dunia dipimpin oleh seorang Kristen dan dari etnik China. Baik secara agama maupun etnik merupakan minoritas.

Di satu sisi ini tentunya sebuah kebanggan bagi Indonesia. Persis seperti kebanggaan Inggris di saat ibukotanya dipimpin oleh seorang Muslim yang berketurunan Pakistan, Sadiq Khan. Sayapun seringkali menyampaikan pujian ini bahwa demokrasi di Indonesia berjalan baik. Dan dengan sendirinya menjadi argumen tersendiri bahwa Islam dan demokrasi adalah dua hal yang sejalan.

Sayang pujian itu meleset. Bukan karena demokrasi di Indonesia gagal. Tidak pula karena Islam tidak menerima demokrasi. Buktinya di beberapa daerah yang mayoritas Muslim dipimpin oleh minoritas. Bahkan beberapa daerah pemimpin non Muslim itu terpilih dua kali periode.

Melesetnya ternyata ada pada pribadi Ahok yang tidak sensitif, bahkan tidak sadar diri, jika dirinya menjadi pemimpin dari segmen masyarakat yang berbeda secara agama dan etik dari dirinya. Ketidak sensitifan dan bahkan ketidak sadaran ini menjadikannya bersikap "over confident" jika dirinya sudah mendapat dukungan dari masyarakat luas. Bahkan nampak sikap dan peringai Ahok akhir-akhir ini semakin arogan.

Arogansi itulah yang menjadikan Ahok bahkan nampak melawan semuanya. Melawan partai politik dengan mengatakan "tidak akan maju menjadi calon gubernur melalui jalur partai". Dan yang terpenting perangai, baik dalam kata maupun sikapnya, cukup merendahkan siapa saja yang dianggap berlawanan dengannya. Termasuk merendahkan "agamanya sendiri" ketika mengatakan bahwa "ajaran Kristiani itu tidak make sense".

Ads
Editor:Munawi Tahir
Sumber:Facebook Imam Shamsi Ali
Kategori:Opini
wwwwww