Bangkitnya Ilmu Pengetahuan Islam dari Aceh

Sabtu, 22 Oktober 2016 10:22 WIB
Bangkitnya Ilmu Pengetahuan Islam dari AcehFakhrurrazi

Oleh Fakhrurrazi *

Aceh identik sebutannya dengan Serambi Mekkah, dengan beragam argumen yang diutarakan, bagaimana tidak jika kita lacak peradaban intelektualitas manusia di Aceh. Aceh adalah wilayah pertama yang menjadi pusat perkembangan tradisi intelektualitas Islam. Di Aceh pula wacana intelektual Islam di Nusantara mulai menemukan bentuknya, dengan munculnya ulama yang produktif menghasilkan karya-karya mereka seperti Hamzah Al Fansuri, Syamsuddin As Sumatrani, Nuruddin Ar Raniry dan Abdurrauf As Singkili. 


Sejarah Intelektualitas Islam di Aceh sebenarnya sangat lengkap begitulah disebut dalam sebuah buku yang fonomenal “Indonesia dalam arus Sejarah; Kedatangan dan peradaban Islam”. Para Ulama yang menyebarkan ilmunya sangat tangguh, memiliki kapabilitas dan intelektualitas yang tinggi seperti yang kita kenal lewat buku-buku sejarah dewasa ini.

Menurut Prof. Dr. Azymardi Azra, pada abad XVII kita mengenal dua fase intelektualitas, fase pertama adalah Hamzah Fansuri dan Syamsuddin As- Sumatrani dengan corak wahdatul wujud yang kental, terlepas dari soal setuju atau tidak dengan pemikiran mereka, berbagai kajian tentang pemikiran dua ulama ini sepakat menyimpulkan kebesaran mereka. Meskipun Hamzah Fansuri, khususnya sangat dipengaruhi pemikirannya ibnu Arabi seperti disimpulkan Naquib Al-Attas  (1970).

Fase kedua intelektualitas Aceh pada abad XVII ini diwakili oleh tokoh-tokoh ulama pemikir yang merupakan sufi dan ahli fikih sekaligus, seperti Nuruddin Ar-Raniry dan Abdurrauf As-Singkili. Ar-Raniry selain menghasilkan banyak karya dalam bidang ilmu tasawuf, juga menulis karya monumental fikih Ibadah pertama dalam bahasa melayu, yaitu As-Sirathal Mustaqim.

Ads
Sementara Syekh Abdurrauf As-singkili menghasilkan kitab Fiqih Muamalah pertama dalam bahasa melayu yaitu Mir’at at-Thullab dan tafsir tiga puluh juz pertama dalam bahasa melayu Turjuman al-Mustafid. Karya-karya mereka beredar dalam jangka waktu yang sangat lama sehingga memiliki pengaruh besar dalam pembentukan tradisi intelektual-sosial Islam di Aceh.

Penting dikemukakan bahwa, Syekh Abdurrauf as Singkili juga menghasilkan karya-karya sufistik, salah satunya adalah Daqa’iq al-Huruf yang merupakan penjelasan sufistik tentang simbolisme huruf dan angka.

Menurut Ann Marie Schimmel seorang sarjana terkemuka dalam kajian Sufisme, Syekh Abdurrauf As Singkili telah berhasil menyajikan eksposisi dan eksplanasi sufisme secara brilian, jenius dan autentik. Selain itu, sebagai wujud dari kapasitasnya dalam penguasaan bahasa arab, Abdurrauf As singkili juga menulis sebuah karya berbahasa Arab berjudul Tanbih al Mansyi al Mansub ila Thariq al Qusyasyi.

Berdasarkan kajian yang dilakukan oleh Fathurrahman (1991), kitab ini merupakan rujukan penting di dunia melayu dan Islam Asia Tenggara, sejauh menyangkut reinterpretasi doktrin wahdatul wujud. Seperti kita ketahui, doktrin ini telah menyebar luas di aceh sehingga menimbulkan perdebatan sengit antara Nuruddin Ar-Raniry dan para pengikut Hamzah Fansuri dan Syamsuddin As sumatrani. Melalui Tanbih al Masyi inilah, Abdurrauf As Singkili mencoba berdiri ditengah-tengah untuk meredakan konflik intelektual tersebut.

Berdasarkan sejarah perkembangan ilmu pengetahuan di atas hari ini Aceh terus berbenah diri dan melihat sejarah sebagai motivasi untuk terus melangkah ke arah yang lebih baik dan berkemajuan. Hal ini terbukti dengan semakin banyaknya dayah-dayah (pesantren) yang ditinggalkan oleh ulama terdahulu tersebut, di setiap tempat dan pelosok daerah Aceh ada lembaga-lembaga pendidikan, begitu juga dengan perkembangan perguruan tinggi yang semakin hari jumlahnya makin bertambah dan tentunya melahirkan sekaligus mencetak intelektual (cendikia) yang siap memberi kontribusi kepada masyarakat dan bangsa. Dapat dikatakan pengaruh yang sangat kuat dalam sosio-cultural masyarakat Aceh adalah pesantren (dayah) dan perguruan tinggi.

Cuplikan sejarah ketinggian ilmu para ulama Aceh (masa kesultanan) secara implisit menjadi indikator adanya lembaga pendidikan atau perguruan tinggi Islam yang sangat megah hingga terdengar keluar negeri, dan ketika itu pelajar lintas negara pun berdatangan, menimba ilmu pada guru besar atau ulama Aceh. 

Editor:Kamal Usandi
Kategori:Opini
wwwwww