Home >  Artikel >  Opini
Opini

Kapitalisme Sumber Petaka, Serum Palsu Merajalela

Kapitalisme Sumber Petaka, Serum Palsu Merajalela
Wulan Citra Dewi, S.Pd
Rabu, 28 September 2016 09:54 WIB
Penulis: Wulan Citra Dewi, S.Pd

Wahai sodara serta sahabat

Memikul amanah amatlah berat

Menjadi hutang dunia akhirat

Tersalah langkah membawa mudharat, (Tenas Effendy; Tunjuk Ajar Melayu II).

Syair yang dicipta oleh budayawan Riau tersebut sangat cocok sebagai pengingat dan penegur bagi para pemangku jabatan di bumi lancang kuning ini. Tidak terkecuali apapun jabatannya. Pegawai pemerintahan, pegawai pendidikan, pegawai kesehatan, pegawai tingkat RW/RT bahkan profesi sebagai rakyat jelata sekalipun, itu semua merupakan jabatan. Amanah di mata Allah. Pertanggungjawabannya tidak sekedar di dunia, melainkan hingga ke akhirat. Salah dalam langkah mengambil kebijakan, alamat mudharat atau kerusakanlah yang akan kita rasakan.

Sebuah kemudharatan yang besar baru saja singgah menyergap akal sehat kita. Beredarnya vaksin palsu menjadi misteri yang mengerikan bagi seluruh lapisan masyarakat, tidak terkecuali bagi masyarakat Pekanbaru. Berbagai spekulasi bermunculan untuk mendeskripsikan dampak dari vaksin jahanam ini. kelemahan generasi di masa depan, jelas menjadi sorotan. Kebimbangan dan kegamangan hilir mudik menghampiri perasaan seluruh warga negeri ini. Setelah berbagai upaya dilakukan untuk menyelidiki kasus ini, disimpulkanlah bahwa vaksin palsu baru beredar di pulau jawa. Alhamdulillah, keberadaan vaksin bodong tersebut tidak di temukan di Kota Bertuah. Pekanbaru boleh bernafas lega. Tidak perlu was-was dan cemas.

Vaksin palsu tidak ditemukan tapi serum palsu beredar di pasaran. Pekanbaru berguncang. Ternyata ketiadaan vaksin palsu tidak memberikan rasa aman bagi masyarakat pekanbaru. Pasalnya, ditemukan serum palsu yang tidak kalah membahayakan bagi kesehatan. Tidak tanggung-tanggung, 200 botol serum palsu berhasil di sita oleh kepolisian Pekanbaru. ”Ada 200 botol serum anti tetanus atau biosat palsu yang disita,” ungkap Kapolresta Pekanbaru,  Kombes Pol Tony Hermawan, (Okezone.com, 4/8)Diperkirakan jumlah tersebut akan terus bertambah seiring terus berjalannya penyelidikan. Mengingat 200 botol serum abal-abal tersebut disita dari satu tempat penggledahan saja.

Ads
Salah Sangka Membawa Petaka

Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) sendiri menemukan dua jenis serum yang dipalsukan di beberapa wilayah Sumatera termasuk Pekanbaru, yakni serum anti-bisa ular dan serum anti-tetanus. Terkait temuan serum palsu ini, BPOM memberikan penjelasan tentang efek dari serum tersebut.

Deputi I BPOM, Tengku Bahdar Johan Hamid menjelaskan, bahwa serum palsu yang ditemukan tidak berbahaya karena hanya berisi larutan garam (NaCl).  Hanya saja, bisa ular atau bakteri penyebab tetanus akan terus bekerja karena yang diberikan kepada pasien bukanlah obat. Di sisnilah pasien kemungkinan terancam jiwanya.

''Jadi kalau umpamanya orang kena bisa ular, disuntikkan  itu, ya bisa ularnya tetap bekerja sebagai bisa ular (di dalam tubuh). Mati enggaknya (si pasien), tergantung bisanya. Kalau tetanus juga,” (republika, 1/8).

Inilah yang mengerikan. Siapa yang akan menjadi korban? Rakyat jelata. Pasien yang tidak punya banyak uang. Sialnya, pasien jenis ini jumlahnya jauh lebih banyak dibandingkan dengan para tuan yang beruang. Berapa banyak pasien atau keluarga pasien yang akan salah sangka dengan perkara seperti ini. mereka menyangka bahwa mereka telah di obati karena obat telah diberi. Nyatanya obat yang dibagi adalah obat yang tidak asli. Memang serum palsunya tidak membahayakan, tapi kepalsuannya itu mengakibatkan racun terus bekerja dan berakhir pada petaka, kematian. Jika sudah demikian, siapa yang patut disalahkan?

Kapitalisme Sumber Petaka

Tidak ada yang mau dipersalahkan dalam perkara ini. Semua memiliki dalih untuk mengelak dari tuntutan. Oper mengoper perkara. Siapa yang layak bertanggung jawab, berkelindan dusta yang tidak menemukan titik temu sebagai penyelesaian. Memang, pada akhirnya terdaftar beberapa nama sebagai tersangka. Namun, yakinkah transaksi haram ini akan berhenti tanpa menggarap episode baru bak drama? Sebagaimana serunya episode bisnis narkoba yang bahkan dilakukan di balik jeruji penjara?.

Kehidupan saat ini semakin sempit. Perekonomian yang tidak menentu menjadikan banyak orang nekat demi meraih pundi-pundi keuntungan. Ditambah lagi dengan harga segala kebutuhan hidup yang melambung tinggi, maka berbagai cara demi mendapatkannya akan dilakoni. Tidak lagi peduli, halal atau haram?. Berbahaya atau tidak bagi alam, hidup dan manusia?. Hal terpenting adalah menguntungkan bagi dirinya, keluarganya, dan kelompoknya. Inilah sifat buruk yang berhasil ditelurkan oleh paham rusak dan merusak kapitalisme. Pola pikir liberal bergandeng dengan pola hidup hedonis dan individualis. Sempurna untuk menghancurkan tatanan kehidupan.

Kapitalisme yang berorientasi pada materi (harta) menjadikan setiap yang bersentuhan dengannya akan lupa diri. Lupa siapa penciptanya. Apa tujuan hidupnya. Mau kemana setelah kehidupan ini berakhir. Sehingga, sepanjang hidupnya hanya fokus pada materi dan materi, tanpa merasa cukup dengan yang ada. Rakus, itulah tabiat utamanya. Karena kebahagiaan dalam kamus kapitalisme adalah ketika semua keinginan dapat terpenuhi. Jelas, itu tidak terbatas, karena sejatinya hal tersebut bukanlah kebahagian hakiki.

Maka, peredaran barang-barang palsu semisal beras palsu, ijazah palsu, uang palsu, vaksin palsu dan serum palsu ini akan tetap eksis mengancam jiwa. Ketika  kita tetap bertahan pada sistem kehidupan kapitalisme yang menuhankan harta duniawi yang durjana. Ketika kita tidak segera menyadari bahwa diri ini diciptakan oleh Illahi yang Esa, tujuan kita dicipta adalah untuk beribadah kepadaNya, dan tempat kembali kitapun tidak kemana-mana melainkan kembali juga pada sang Pencipta, yakni Allah S.w.t. Ketika kesadaran ini belum meliputi, maka yakinlah berbagai kepalsuan akan tetap berjaya di atas bumi lancang kuning ini, bahkan di seluruh bumi.

Masyarakat melayu adalah masyarakat yang taat syariat. Maka sudah selayaknya menjadi garda terdepan untuk menyongsong perubahan. Karena ancaman sesungguhnya bukan sekedar serum palsu. Melainkan sistem kehidupan palsu nan semu yakni kapitalisme. Sistem ini tidak layak mengatur hidup manusia karena ia berasal dari akal yang dipenuhi hawa nafsu syaitan. Selayaknya, masyarakat melayu bergegas mengawal untuk diberlakukannya aturan kehidupan yang bersumber dari kalam Illahi yakni aturan yang Islami. Karena hakikatnya, Islam adalah sebuah agama sekaligus ideologi yang memiliki separangkat aturan komprehensif. Islam mengatur secara sempurna setiap sendi kehidupan. Sehingga akan terwujud keluarga, masyarakat, bahkan negara yang hanya berlandaskan pada wahyu Illahi. Maka tidak perlu bagi kita jauh-jauh mencari sistem kehidupan yang menentramkan. Cukup Islam saja. Bukankah sangat lekat di benak kita sebuah petuah dari tetua, yakni Adat bersendi syara’, Syara’ bersendi Kitabullah. Begitulah seharusnya, hidup ini akan diliputi keamanan dan keberkahan jika berlandaskan pada kitab Allah, Al Quran yang mulia.

Akhirnya, mari kita renungi tunjuk ajar di atas. Bahwa setiap diri kita adalah pemimpin, pemegang amanah. Maka, setiap kita pasti akan dimintai pertangungjawaban atasnya. Salah dalam melangkah, mudharat yang akan tercipta. Bukan hanya di dunia, tapi juga berkekalan hingga di akhirat, selamanya. Wallahualam. ***

Penulis adalah anggota Lajnah Fa’aliyah MHTI Wilayah Pekanbaru, Riau

Kategori : Opini
www www