Home >  Artikel >  Opini

Haji, Merindui Rumah Allah

Senin, 26 September 2016 01:10 WIB
Penulis: Bagus Santoso
Haji, Merindui Rumah Allah Bagus Santoso
SAMBUTLAH haji dengan takwa dan taubat yang benar. Jangan tunda-tunda ia, sebab menundanya adalah kesesatan. Tuhanku karunialah maaf, taufik, ampunan dan kemenangan. Sungguh kemenangan adalah derajat tertinggi.Sebait kata indah menghunjam, meresap dan menggugah kalbu. Kalimat sederhana tapi penuh makna mendalam. Itulah tulisan penutup Ma'aly Syaikh Prof.Dr. Abdurrahman bin Abdul Aziz as-Sudais ketua Umum Dewan Pimpinan Umum Urusan Masjidil Haram dan Masjid Nabawi, pada buku khutbah Jumat musim haji tahun 2016.

Kata-kata yang terangkai wangi ini sekaligus dipakai untuk menyapa selamat datang kepada rombongan perdana jamaah haji yang tiba di Baitullah rumah Allah di Makkah.

Inilah kewajiban haji yang suci telah bersinar cahayanya di langit umat. Malamnya telah berkilau dan siangnya pun telah terbit.

Ads
Kabar gembira mengiringi wangi bunganya dah segenap keberkahan dan kebaikan mengikuti manis buahnya. Dan serangkaian Keutamaan dan kemuliannya telah memenuhi relung hati segenap jamaah haji.

Alu-aluan ucapan selamat datang untuk para tamu Allah, menyentuh Hati jutaan orang muslim yang baru saja tiba di Kota Suci. Berjuta pasang mata dan mata hati sembab menahan rasa syukur dan haru bercampur senang dan riang yang tak sanggup terkatakan.

Betapa tidak, untuk sampai ke Makkah tempat kelahiran agama Islam, dan di bumi dikembalikannya Kemulian dan keagungan, tempat yang paling suci dan tanah bersih ini tidak mudah proses perjalanannya.

Umat muslim Indonesia harus rela menunggu hitungan rata- rata diatas 7 tahunan bahkan belasan tahun untuk mendapatkan visa haji dari kerajaan Arab Saudi.

Sementara Malaysia negara tetangga butuh 50 tahun menunggu masa pendaftaran. Malaysia mendapatkan kuota haji 22 ribu sesuai dengan jumlah penduduk muslimnya. Sedangkan Negara kita Indonesia mendapat jatah kuota 220 ribu, dimana warga Indonesia Kini sudah melampaui angka 220 juta orang.

Membludaknya pendaftaran haji menandakan betapa setiap muslim merindukan Makkah, betapa inginnya mencium Ka'bah. Dengan segala kepasrahan dan ketaatan kepada perintah Allah SWT.

Tidak dapat dibayangkan jika kuota haji tidak dibatasi, apakah Makkah dan Medinah mampu menampung muslim sedunia. Bagaimana mengatur perjalanan udara, daratan dan lautan. Bagaimana juga menyiapkan dapur masaknya, maktab dan toiletnya.

Dari pengalaman penulis melakukan perjalanan haji, dengan visa - kuota haji yang sudah diatur oleh Arab Saudi setiap tahun, di Makkah dan Medinah sudah menjadi lautan manusia. Berbagai layanan barang dan jasa seakan tak kuasa untuk istirahat kecuali untuk sholat.

Luasan dan tenda di Arafah secara titik koordinat tak akan bertambah. Begitupun Mudzalifah dan Mina. Menambah kuota haji otomatis juga memperluas atau merekayasa tempat-tempat peribadatan dan infrastruktur pendukungnya.

Terlepas dari beda pandangan antar ulama terhadap penambahan tempat ibadah . Perkembangan terkini lintasan tawaf yang dulunya satu sekarang sudah dibuat 4 tingkat. Ruas jalan ujtuk Sa'i dan tempat melontar jumroh juga mengikuti jumlah lintasan tawaf.

Infrastruktur jalan dan tempat pemondokan terus diperluas. Gunung di ratakan, bukit di buat terowongan, pemukiman warga di bebaskan, itupun masih belum cukup.

Pada puncak ibadah, Jarak Arafah - Mudzalifah yang pada hari biasa ditempuh 10 menit menjadi 5 sampai hingg 8 jam. Itupun banayak rombongan haji yang tidak bisa turun untuk mabit di Mudzalifah. Karena perpakiram tak sanggup menampung bus jamaah.

Begitupun dari Mudzalifah ke Makkah, dan Makkah ke Mina. Jutaan manusia menyemut di setiap ruas badan jalan. Barisan bus berjejer bak kerumunan kawanan unta di padang pasir.

Ruas jalan di Arab sangat lebar, rata- rata dua jalur setiap jalur untuk 4 ruas mobil. Jarak tempuh kendaraan harus 100 km perjam. Lambat ditilang laju malah aman.

Bandingkan dengan jalan dan kemacetan di Jakarta. Di Jakarta macet setiap hari, lebar jalan tak berubah, masuk jalan tol haralua bayar tetapi terjebak macet. Sementara Sepeda motor di Arab nyaris tidak kelihatan.

Tak dapat di bayangkan jika Makkah itu berada di Jakarta. Setiap hari sudah macet apalagi pas puncaknya ibadah mungkin yang ada hanya berantem bukan ngadem. Itulah mungkin kenapa Tuhan memilih Makkah diturunkannya Nabi bukan di Tanah Abang.

Terkait Keterbatasan kuota secara hitungan matematis sudah di sepakati oleh antar pemimpin negara Islam. Yaitu 1 permil dari penduduk muslim dari suatu negara. Indonesia yang penduduknya 220 juta ternyata belum memiliki data ter update. Maka kuota haji dari negara kita masih tetap 220 ribu orang.

Sudah waktunya Pemerintah dan DPR RI mendata secara pasti jumlah orang muslim di Indonesia. Fakta penduduk terus bertambah maka peluang menaikkan angka kuota haji sangat besar. Mengingat daftar tunggu calon jamaah haji jika di bariskan secara fisik . Dengan format 2 barisan seperti tentara boleh jadi panjangnya dari tanah Aceh sampai Papua.

Banyak kisah duka, dimana calon jamaah haji lanjut usia yang sudah mendaftar akirnya batal. Niat ke tanah suci yang dimimpikan tak terkabul keburu meninggal dunia . Padahal antrean nomer porsi hajinya belum sampai ke urutan namanya.

Maka penulis sangat bersyukur, alhamdulilah dengan seizin Allah tergapai apa yang di citakan hadir dengan jiwa raga di beranda baitullah bersama sekitar 3 juta muslim sedunia pada musim haji tahun 2016.

Merindukan tanah suci Makkah, tersebab hidayah. Dalam melaksanakan sholat seluruh gerak fisik dan nafas batin khusyuk berserah diri kepada Allah. Seiring dengan itu setiap jiwa muslim pasti merindukan untuk melihat langsung Ka'bah yang dijadikan kiblat sholat saat dikerjakan di kamar rumah, jalanan, hotel mewah atau di gubuk tengah sawit.

Ka'bah berada di dalam Masjidil Haram di kota Makkah. Kota kelahiran Nabi Muhammad SAW pembawa ajaran Islam. Sejak masa kenabian Ibrahim Ka'bah sudah dibangun. Dengannya Nabi ibrahim diuji ketaatan dan kesabaran oleh Allah SWT.

Ka'bah dijadikan oleh Allah sebagai rumah baitullah, tempat berkumpul bagi manusia dan tempat yang aman. Keberadaan Ka'bah menjadikan muslim seluruh dunia setiap detik berdatangan tanpa jeda.

Khusus Makkah tidak hanya musim haji, Makkah yang terdapat Ka'bah setiap hari terus disesaki umat muslim, yang sengaja mendatangi panggilan dari Allah SWT. Musim haji selesai berganti dengan umroh. Makkah tak kan pernah berhenti dari umat yang mendambakan ampunan suci.

Sementara Medinah adalah kota mendamaikan hati dan kemenangan haqiqi. Tempat nabi Muhammad menerima wahyu dan mengibarkan bendera ajaran Islam dengan membawa kebenaran sejati. Melebarkan ajaran Islam keseluruh mata angin dunia.

Melakukan Ibadah haji sekaligus jadi ajang memupuk tali silaturahmi. Haji juga cerminan muslim sejati, saling menghargai dan menghormati, tepat juga untuk koreksi diri dan saling nasihat- menasihati.

Dalam pelaksanaan haji akan ditemui petugas keamanan atau asykar yang gagah disetiap sudut tempat peribadatan dan pelayanan. Mereka serius menjalankan tugas untuk kelancaran ibadah para jamaah. Disebalik keseriusannya ia sangat santun dan ramah. Mereka ada di sekeliling Ka'bah, di setiap gate Masjidil haram, hingga di setiap lintasan tawaf dan Sa'i.

Akhirnya hanya kepada Tuhan penulis bermohon ampunan. Semoga Allah memelihara jamaah haji yang mendatangi rumahNya yang suci, melanggengkan rasa aman, tenteram, tenang, mencatat nya dengan pahala besar, menjadikan ibadah haji yang mabrur, usaha yang dibalas dan dosa yang diampuni. Sungguh Allah Maha Pemurah lagi Maha Mulia.

Medinah, 17.29, Sabtu, 24/916

Bagus Santoso adalah rombongan jamaah haji tahun 2016 dari Riau

Kategori : Opini
www www