Perang Strategi di Rio de Jeneiro

Perang Strategi di Rio de Jeneiro
Hadi Wihardja saat bertemu Menpora.
Rabu, 03 Agustus 2016 18:10 WIB
Penulis: Ir Hadi Wihardja
KEPUTUSAN Federasi Angkat Besi Internasional (IWF) dengan tidak memperkenankan atlet angkat besi Rusia tampil di Olimpiade Rio de Jeneiro 2016 cukup mengejutkan. Hal ini terkait dengan adanya beberapa kasus doping yang terjadi di negeri Beruang Merah itu.

Dampak dari keputusan itu menyebabkan 8 lifter Rusia (5 putra dan 3 putri) kehilangan hak untuk tampil pada pesta akbar olahraga empat tahunan dunia tersebut.

Mengingat Rusia menjadi salah satu kekuatan angkat besi dunia, maka keputusan IWF itu jelas menguntungkan negara-negara peserta. Sebab, kesempatan merebut medali yang selama ini dikuasai atlet angkat besi Rusia akan terbuka.

Tidak heran jika beberapa negara melakukan perubahan strategi pemenangan di antaranya China.

Ads
Dengan tidak tampilnya lifter Rusia pada kelas +75kg putri, China memindahkan kuota lifternya yang tadinya di kelas 48kg atas nama Zhi Hui Hou ke kelas +75kg.

Secara otomatis, dengan naiknya juara dunia Zhi Hui Hou yang menjadi juara dunia junior 2015 pada usia 19 tahun dengan total angkatan 204kg (Snatch 91kg dan Clean & Jerk 113kg), maka lifter Sri Wahyuni semakin terbuka untuk membuktikan bahwa cabang angkat besi akan rutin menyumbangkan medali di Olimpiade.

Melihat peta terakhir hasil entry per 1 Agustus 2016, maka batu sandungan Sri Wahyuni akan datang dari lifter berusia 24 tahun asal Vietnam Thi Huyen dengan total angkatan terbaik 194kg (Snatch 85kg dan Clean & Jerk 109kg). Kemudian, lifter Jepang, Hiromi (31 tahun) dengan total angkatan 193kg (Snatch 85kg dan Clean & Jerk 108kg). Saingan lain adalah "kuda hitam" Chen Wei Ling. Lifter Taipeh berusia 34 tahun ini bisa menjadi "kuda hitam" karena peningkatan angkatannya belakangan ini. Perlu diketahui, Chen Wei Ling merupakan juara dunia angkat berat 2015 di kelas 46 kg.

Terakhir yang patut juga dicermati kehadiran lifter penjelajah asal Thailand, Tanasan Sopita. Lifter berusia 22 tahun ini memiliki total angkatan terbaik 210kg (Snatch 95kg, Clean & Jerk 115kg) di kelas 53kg. Namun, peluangnya untuk mencapai total angkatan terbaiknya tersebut cukup berat karena Tanasan dipaksa menurunkan berat badan idealnya sebesar 5kg.

Tanasan memang bukan satu-satunya yang turun ke kelas 48kg. Lifter asal Dominica, Piron Betrix (21 tahun) yang total angkatan terbaiknya 185kg (Snatch 85kg, Clean & Jerk 100kg) juga melakukan langkah yang sama. Di cabang angkat besi Olimpiade memang segalanya bisa terjadi.

Kuncinya, Sri Wahyuni harus mampu mempertahankan total angkatan 200kg (Snatch 85kg, Clean & Jerk 115kg) yang dicapainya selama menjalani latihan persiapan dengan berat badan di bawah 48kg untuk membuka peluang tersebut. Di angkat besi hanya ada enam kesempatan mengangkat yakni 3 kali angkatan Snatch dan 3 kali Clean & Jerk.

Dalam pertandingan yang digelar Sabtu (6/8/2016), Sri sebaiknya memulai angkatan Snatch seberat 78 sampai dengan 80kg. Dengan demikian, dia bisa mencapai angkatan 85kg. Sedangkan angkatan Clean & Jerk dimulai dengan angkatan 106kg untuk mencapai target 110kg.

Dengan target total angkatan sekitar 195kg, Sri berpeluang mengibarkan Merah Putih di Riocentro Pavilion 2 Brasil. Semoga. Penulis : Ir Hadi Wihardja, Direkur Performa Tinggi Satlak Prima, Olimpian 1984 dan peraih perak Kejuaraan Asia 1987
Editor:Muslikhin Effendy
Kategori:Opini
wwwwww