Opini

Ramadhan: Puncaknya Ketakwaan

Ramadhan: Puncaknya Ketakwaan
Wulan Citra Dewi, S.Pd
Sabtu, 18 Juni 2016 04:12 WIB
Penulis: Wulan Citra Dewi, S.Pd

ALHAMDULILLAH, kita masih diberi nafas kehidupan dalam bulan Ramadhan. Bulan mulia, penuh ampunan dan berlipat gandanya segala amal kebaikan. Setiap muslim yang beriman, pasti akan menjadikan bulan ini sebagai momentum perubahan, memupuk ketakwaan. Maka seorang muslim hakikatnya tidak sudi hanya mendapat lapar dan dahaga, melainkan berkomitmen untuk meraih gelar takwa. Sudahkah kita memprioritaskannya?

Allah S.w.t berfirman: ”Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa, sebagaimana puasa itu telah diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian, agar kalian bertakwa” (QS. al-Baqarah:183). Imam an-Nawawi di dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa takwa adalah melaksanakan perintah-perintah Allah dan menjauhi laranganNya. Lebih rinci, Sayidina Ali bin Abi Thalib ra, mengatakan bahwa takwa adalah takut kepada zat Yang Maha Agung, mengamalkan Alquran, merasa cukup dengan (mengambil dunia) yang sedikit dan menyiapkan bekal untuk hari akhirat. Masyaallah, sungguh jelas jalan menuju gelar takwa. Sudahkah kita, warga, bahkan negara menapak jalan tersebut?

Bagai menelan pil pahit yang menyesakkan. Keadaan ramadhan saat ini masih sama dengan Ramadhan 92 tahun yang lalu, pasca keruntuhan institusi Islam, Khilafah, pada tahun 1924M. Sejak saat itu, umat islam hidup dengan aturan yang memisahkan agama (Islam) dari kehidupan. Padahal, syarat untuk meraih gelar takwa adalah menjalankan aturan Islam dalam hidup, sebagaimana yang dinyatakan oleh Imam An-Nawawi dan Sayidina Ali bin Abi Thalib ra.  Tentang makna ’takwa’ dalam surah al-Baqarah ayat 183 tadi.  Kini, cengkraman sekulerisme (pemisahan agama dari kehidupan) semakin nyata tanpa tirai sedikitpun. Kaum muslim terus diserang dan dipojokkan bersamaan dengan syariatNya yang mulia. Sekulerisme dengan paham kebebasan, mengobok-obok kemurnian syariat dengan tujuan melukai hati kaum muslim. Lebih dari itu, liberalisasi yang mulai menjangkiti benak umat, memaksa umat untuk hipokrit dan phobia terhadap Islam. Akhirnya , semua itu semakin menjauhkan umat dari pemahaman Islam yang sesungguhnya. Nyatanya, kini umat tidak lagi merasa takut kepada Allah, tidak lagi menerapkan Al Quran dalam kehidupan. Sebaliknya, umat justru berlomba mengejar kenikmatan duniawi sebanyak-banyaknya, dan lalai dari mengumpulkan bekal untuk kehidupan akhiratnya. Astagfirullah.

Hal tersebut bukanlah isapan jempol. Lihatlah berapa banyak pejabat negara yang terlibat korupsi, narkoba, pelecehan seksual, menyerahkan SDA milik umat kepada barat, mencekik leher rakyat dengan kebutuhan hidup yang serba diprivatisasi non subsidi, menghisap darah rakyat dengan bermacam pajak yang tak terperi, dan seabrek kedzholiman lainnya.

Ads
Lantas, bagaimana dengan kondisi rakyat dan para generasi remajanya? Setali tiga uang, dalam kondisi kapitalistik, sekulerisktik dan hedonistik semacam ini, maka dengan mudah bisa kita raba keadaannya, berada ditepi jurang kehancuran. Bagi orang tua, mereka berfikir keras bagaimana caranya membanting tulang untuk memenuhi semua kebutuhan yang harus dibayar dengan uang yang tidak sedikit. Pangan, sandang, papan, kesehatan, pendidikan, bahkan sampai kuburanpun harus dipikirkan pundi-pundinya agar semua itu dapat terpenuhi. Semua harus dipikirkan sendiri, nyaris tanpa perhatian penguasa. Bekerja seharian, bahkan tak jarang sampai malam, pun belum juga dikatakan layak sebagai ukuran hidup di zaman yang serba uang. Bukan hanya Bapak, Ibupun harus turun tangan, mencari nafkah. Bukannya bekerja yang halal-halal saja, bahkan yang haram-harampun dilakoni demi hidup di era serba uang ini. Bagaimana dengan generasi remajanya? Kurang perhatian. Mencari kebebasan. Maraklah peristiwa narkobaan, tawuran, pemerkosaan, geng-gengan, kemaksiatan, dan sederet rapor merah remaja yang merugikan dirinya, orang tuanya, masyarakatnya, negaranya, bahkan akhiratnya. Astagfirullah, Sudah bertakwakah kita?

Ramadhan adalah puncaknya ketakwaan. Masih ada waktu dan kesempatan untuk berubah menuju titik yang Allah Ridai, menjadi diri yang bertakwa dan berjuang bersama untuk negeri yang juga harus bertakwa. Sehingga tidak ada lagi hijab bagi Allah untuk membukakan bagi kita pintu-pintu keberkahan dari langit dan bumi. Sebagaimana firmanNya:

”dan sekiranya penduduk negeri beriman dan bertakwa, niscaya Kami akan membukakan bagi mereka pintu-pintu keberkahan dari langit dan bumi” (QS. al-A’raf:96). Semoga kita termasuk kedalam bagian orang-orang yang sedang berlomba meraih gelar takwa, lebih dari itu mari kita layakkan diri menjadi bagian dari orang-orang yang berjuang untuk mewujudkan negeri yang bertakwa, hinga kemenangan itu tiba atau ajal lebih dulu meminang kita. Tak ada masalah, karena yang sama-sama kita pinta hanyalah Khusnul khotimah. Wallahualam.

Penulis adalah ibu rumah tangga, trainer remaja, penulis dan pemerhati pendidikan.

Kategori:Opini
wwwwww