Home >  Artikel >  Opini
Opini

In Memoriam: Sabar Pandapotan Siagian

In Memoriam: Sabar Pandapotan  Siagian
Mulyadi
Sabtu, 04 Juni 2016 06:23 WIB
Penulis: Mulyadi

JUMAT (3/6) petang seorang wartawan Indonesia  andal yang penuh pengalaman, Sabar Pandapotan Siagian tutup usia dalam usia 89 tahun. Ia meninggalkan istri dan dua anak. Sabam dikenal, karena pergaulannya yang luas. Mulai dari kalangan pejabat tinggi, militer sampai sesama rekan wartawan. Baik yang berusia muda maupun mereka yang masuk kelompok “old men”

Ia merupakan wartawan yang  “all round”. Mulai dari soal politik, militer dan diplomasi dikuasainya denngan baik. “Opung” yang besar di Betawi ini, termasuk kutu buku. Maklum posisinya juga berada di kalangan orang penting. Ia aktif di Persatuam Wartawan Indonesia (PWI). Almarhum Rosihan Anwar adalah ‘’konco dekat’’ nya. Ia memanggil Rosihan degan sebutan “bung”.

Ketika berlangsungnya HUT PWI di Bengkulu beberapa tahun lalu, dalam dialog dengan para kuli tinta, pengamat dan pakar, ia kelihatan tekun mengikuti jalannya pertemuan. Ketika itu, saya tampil dan bertanya mengenai sosok Rosihan Anwar yang selalu bicara lugas, namun terkadang diwarnai humor. ‘’Ah you menyinggung sahabat saya Rosihan. Saya sedih mendengarnya,” ujarnya dalam percakapan di ruang makan.

Sebagai jurnalis yang pernah bekerja di berbagai media, ia dikenal kritis dalam bertanya. Sejumlah media pernah jadi ajang karirnya. Misalnya di “Sinar Harapan”. “Suara Pembaruan”, “Jakarta Post” dan lain-lain. Ia juga pernah menjadi Duta Besar (Dubes)di Australia .Jadi jangan heran, wawasan diplomasinya luas.

Ads
Ketika mengikuti Pangkopkamtib (ketika itu) Laksamana Soedomo, masalah penyimpangan yang dilakukan aparatur negara ikut dibicarakan. Karena itu pungutan liar (Pungli) harus dilawan. Ia terus berdialog dengan Pangkopkamtib. Namun ada beberapa hal yang tidak diberitakan. Padahal laporan yang dibuat Sabam judulnya menarik. “All The Admiral Men” (orang-orangnya laksamana). Kunjungan ke daerah-daerah selalu diikuti para wartawan, sehingga informasi penting bisa diperoleh dengan cepat dan akurat.

Pada hari pers di Banjarmasin (Kalimantan Selatan), Sabam mengajak minum kopi.

“Kenapa you sering nanya mengenai tulisan “All The Admiral Men?”. Tentu saja, karena kunjungan penting yang diikuti terbatas para wartawan, pasti ada hal-hal menarik. Bahkan rahasia. Namun tentu saja tidak bisa semuanya diberitakan. Makanya cocok jika tulisan yang dimuat merupakan hasil pengamatan orang-orangnya Laksamana. Pernah ada gagasan agar orang-orang tersangkut korupsi ditangkap saja dan kemudian diadili. Tapi sejarah membuktikan, peranan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) kemudian membekuk para koruptor.

Apa yang diceritakan ide menangkap koruptor ternyata jadi kenyataan. Terakhir ketemu almarhum dalam HUT PWI di Batam dua tahun lalu. Wajahnya memang agak lesu.Tapi bicaranya tetap bersemangat. Karena pengetahuannya luas, di kalangan anggota PWI Sabam sering digelar “profesor”. Karena menurut arti sebenarnya dalam bahasa Prancis, “porfesseuer’ adalah guru. Jadi pengertiannya tidak hanya di kalangan perguruan tinggi saja. 

Selamat jalan Sabam Pandapotan Siagian. Beristirahatlah dengan tenang menghadap Sang Maha Kuasa. Namamu  tercatat di dunia jurnalistik Indonesia. ***

Mulyadi adalah Wartawan Senior, Tinggal di Pekanbaru

Kategori : Opini
www www