Home >  Artikel >  Opini
Untuk Para Voters PSSI (bagian-2)

Sudahkah Engkau Bicara dengan Hatimu?

Sudahkah Engkau Bicara dengan Hatimu?
M Nigara, Wartawan senior olahraga Indonesia
Kamis, 26 Mei 2016 23:09 WIB
Penulis: M Nigara
INI KALIkedua, aku menuangkan tulisan untukmu para voters PSSI, pengusung KLB (Kongres Luar Biasa). Sekali lagi, aku tuliskan, KLB itu bukan barang haram. KLB itu ada dalam statuta, meski tentu saja harus melalui mekanisme yang baik dan benar. Bukan mekanisme yang dipenuhi nafsu birahi.

Sejarah sepakbola kita mencatat KLB telah terjadi beberapa kali. Dimulai saat Bang Ali yg digulingkan oleh para sahabatnya. Lalu Syarnoebi Said yg menggantikannya, juga dijungkalkan oleh teman-temannya yg berlindung dalam banyak alasan.

Apa hasilnya? Fakta sejarah menuliskan sepakbola kita tetap saja seperti itu. Penuh intrik, penuh muslihat, dan saling mengintai. Benar ada tawa, benar ada peluk dan jabat tangan, tapi semua itu justru ada dalam bingkai kepura-puraan. Persahabatan yang diucapkan, adalah sahabat yg didasari kepentingan. Persis seperti yg ada dalam sinetron Indonesia, makin licik, makin picik, makin seru.

Jadi, kisah KLB memang bukan sesuatu yg aneh. Dan selalu saja mengabaikan persahabatan, mengabaikan pertemanan. Dan selalu juga basis yg dipakai adalah untuk dan atas nama perbaikan. Tapi faktanya selalu saja untuk memenuhi hasrat dan nafsu birahi sekelompok orang. Malah tidak jarang semua langkah itu sesungguhnya hanya ingin melindungi diri mereka dari kemungkinan lain.

Ads
Lho..lho... apa itu?

Mereka itu

Berulang kali, menpora dan seluruh bagiannya menuding ada pengaturan skor, ada suap, ada korupsi, dan ada sederet tudingan negatif lain dialamatkan ke PSSI. Benarkah?

Saya tidak ragu untuk menjawab ya, hal itu pasti ada. Sejak 1979, ketika sebagian pemilik klub dan asprov yg sekarang sedang menari-nari dan bersorak-sorai kesenangan karena telah mengusung KLB atas pesanan, masih main kayang-layang, saya telah melakukan investigasi soal itu.

Saya menemukan hal itu. Saya memaparkan temuannya untuk PSSI. Tapi, jangan tanya hasilnya. Saya tidak hendak menuding, tapi mereka yg sudah mengurus sepakbola sejak 1980-an, masih tetap ada.

Pertanyaannya, siapakah sesungguhnya pelaku kegiatan sepakbola itu? Kompetisi, turnamen dan sejenisnya? Pengurus PSSI, ketua umum PSSI? Atau eksekutif PSSI?

Jangan ragu untuk menjawab, merekalah para voter itu. Merekalah yg memainkan seluruh aktivitas persepakbolaan. Mereka pemilik klub, mereka yg mengontrak pemain dan pelatih. Mereka juga yg gagal bayar pemain dan pelatih. Mereka juga penikmat APBD hingga akhirnya dicabut oleh Mendagri, Gamawan Fauzi 2010.

Pengurus, exco PSSI dan Ketua Umum PSSI hanya pengawai regulator. Jadi, kalau ada permainan, harusnya pemerintah justru mendalami mereka bukan malah menuding pengurus wabil khusus exco serta ketua umum.

Tapi fakta, ketika pengurus wabil khusus Ketua Umum PSSI, La Nyalla berusaha ingin mendalami kasus-kasus itu, PSSI malah dibekukan. La Nyalla bahkan telah mendeteksi dan nyaris mampu membongkar siapa-siapa saja pengacau sepakbola nasional, di saat bersamaan dirinya justru dikriminalisasi.

Lucunya, seluruh kesalahan ditumpahkan ke pundak LNM seorang. Bahkan Gusti Randa dan Johar Lin Eng, yg selama selama sebelas bulan tahu persis keadaan PSSI dan LNM serta juga tak bisa berbuat apa-apa, ikut munuding. Keduanya muncul seolah pahlawan yg ingin menegakkan kebenaran. Keduanya seperti bukan bagian dari apa yg mereka teriaki itu. Keduanya seolah-oleh menjadi dua sosok yg putih-bersih.

Itu sebabnya, meski ketua umum PSSI sudah berganti sebanyak 15 kali, selama delapan puluh enam tahun, sepakbola kita, ya seperti begi-gini saja. Kebaikan dan perbaikan belum bisa dilakukan lantaran semua masih tetap begitu-gitu juga. Secara berseloroh aku sering mengatakan sepakbola kita pelaku dan kelakuannya tetap sama, hanya ganti casingnya saja.

Kepentingan Sendiri

Mari kita tanya: Apakah engkau sudah membuat sesuatu untuk kemajuan sepakbola kita? Sudahkah engkau membuat rencana untuk menata sepakbola kita? Atau sudahkah engkau berpikir bahwa suatu hari nanti suka atau tidak, terpaksa atau dipaksa pasti meninggalkan sepakbola? Bersambung...

M.Nigara, Wartawan Senior Olahraga dan Pemerhati Sepakbola
Editor : Muslikhin Effendy
Kategori : Opini
www www