Home >  Artikel >  Opini

Menyibak Potensi Air Terjun 7 Bidadari

Selasa, 08 Maret 2016 12:54 WIB
Penulis: Muklis Azhar
Menyibak Potensi Air Terjun 7 Bidadari

HUTAN lebat, lautan luas, tanah subur, kekayaan alam berlimpah, dan iklim tropis bersahabat. Hanya segelintir negara yang diberi kelebihan dan keunggulan tersebut oleh Allah SWT.

Koes Plus pun menggambarkannya dalam lirik lagunya dengan amat manis: ikan dan udang menghampiri dirimu… tongkat dan batu pun menjadi tanaman...

Sudah sepatutnya kita bersyukur atas besar dan hebatnya karunia yang dilimpahkan Tuhan Yang Mahas Esa kepada Indonesia. Indonesia adalah jamrud khatulistiwa, surga dunia yang membuat iri banyak negara. Tetapi mensyukuri saja tidak cukup. Kita juga harus menjaga dan melestarikan alam Indonesia.

Baru-baru ini, di daerah kita ditemukan air terjun yang diberi nama Air Terjun 7 Bidadari. Air terjun ini terletak di SP I Transmigrasi Mbang Grudeung Pase, Kabupaten Aceh Utara, sekitar 50 kilometer dari Kota Lhokseumawe.

Ads
https://www.goaceh.co/assets/imgbank/08032016/goaceh_mx4fa_152.jpg

Alamnya indah mempesona dan masih perawan. Debit air terjun lumayan besar. Air Terjun 7 Bidadari dialiri Sungai Krueng Pase dan Krueng Suak yang membentang sepanjang kaki bukit.

Sebagaimana mempersunting gadis, tak gampang untuk ‘mempersunting’ air terjun perawan ini. Bahkan untuk bisa mengunjunginya pun butuh perjuangan lumayan berat.

Pengunjung yang datang ke lokasi itu akan disambut hamparan lahan sawit milik PT Satya Agung, perkebunan karet, dan usaha galian C. Menempuh perjalanan di bagian ini lumayan datar.

Namun setelah itu, jalan berganti berbukit-bukit, berbatuan, dan kering dengan ketinggian 100-1000 dpl (di atas permukaan laut). Saat kemarau kendala mungkin tadi masih dapat diantisipasi.

Namun ketika hujan turun, masalahnya berbeda. Jalan menjadi becek dan licin. Bahkan jalan menuju kawasan yang curah hujan rata-rata 2.200 mm bawah kota dan 3.700 mm di atas gunung itu bahkan berpotensi terjadinya longsor.

https://www.goaceh.co/assets/imgbank/08032016/goaceh_kuyju_153.jpg

Tantangan lainnya adalah, Air Terjun 7 Bidadari ini dikelilingi hutan lindung. Harus dipikirkan bagaimana membuka akses ke tempat ‘emas putih’ tersebut dengan tetap menjaga dan mempertahankan kelestarian hutan lindung. Di sekitar Air Terjun 7 Bidadari dulunya juga terdapat pusat pelatihan gajah yang sekarang telah dipindahkan ke daerah Sare, kabupaten Aceh Besar.

Air Terjun 7 Bidadari memiliki potensi besar dan dapat dikembangkan menjadi objek wisata unggulan. Bila pemerintah berniat menyulap menjadi kawasan wisata, kendala-kendala di atas harus dicarikan solusinya lebih dulu.

Pemerintah daerah harus menyiapkan infrastruktur, baik berupa jalan hotmix, dan fasilitas lainnya. Masyarakat sekitar diharapkan tidak menebang hutan sembarangan dan harus dilibatkan untuk mengelola sehingga mereka ikut memiliki dan menikmati hasilnya.

Kota Lhokseumawe menurut data "Laporan Lhokseumawe Dalam Angka 2013" baru mempunyai 6 tempat wisata, yaitu Pantai Ujong Blang, Pantai Pulau Semadu, aliran Sungai Stadion Reklamasi, Pantai Lancok, Pantai Pelabuhan KP3, dan Reservoir/Pusong.

Struktur perekonomian Kota Lhokseumawe periode 2009 – 2012 pun masih didominasi industri pengolahan minyak dan gas, sebesar 41,59 persen.

Tanpa migas, sektor yang memberikan kontribusi paling besar pada tahun 2012 adalah sektor perdagangan, hotel, dan restoran sebesar 53,40 persen.

Pertumbuhan ekonomi Kota Lhokseumawe pada 2012 sebesar 5,63. Sektor yang mengalami pertumbuhan paling besar adalah sektor listrik, gas, air minum, keuangan, persewaan, jasa perusahaan, perdagangan, hotel, dan restoran.

Kehadiran Air Terjun 7 Bidadari diharapkan dapat menambah jumlah destinasi wisata bagi Kota Lhokseumawe dan Kabupaten Aceh Utara khususnya, serta Provinsi Aceh umumnya. Dengan destinasi baru ini masyarakat akan mendapatkan lebih banyak pilihan lokasi wisata.

Dampak positifnya, ekonomi penduduk sekitar pun bisa ikut menggeliat dan akhirnya mendongkrak taraf hidup mereka.

Tidak kalah penting pula, Air Terjun 7 Bidadari bisa menjadi sumber baru pendapatan Kota Lhokseumawe dan kabupaten Aceh utara tanpa mengganggu kelestarian alamnya. Semoga.***

Mukhlis Azhar (Pak Ulis), adalah anggota Dewan Perwakilan Rakyat Kota (DPRK) Lhokseumawe

Kategori : Opini
www www