Home >  Artikel >  SerbaSerbi

Kasus Pembunuhan Karyawati, Setelah Kirim SMS ke Pelaku untuk Datang, Korban Menunggu di Kamar Pakai Celana Pendek dan Baju Tanpa Lengan

Kasus Pembunuhan Karyawati, Setelah Kirim SMS ke Pelaku untuk Datang, Korban Menunggu di Kamar Pakai Celana Pendek dan Baju Tanpa Lengan
Foto Eno Pahirah, di layar telepon genggam yang diperlihatkan oleh temannya.(tempo.co)
Kamis, 19 Mei 2016 07:31 WIB
TANGERANG - Eno Parihah, 19 tahun, karyawati pabrik plastik di Kosambi, Kabupaten Tangerang, menjadi korban pemerkosaan dan pembunuhan. Polisi sudah menetapkan tiga tersangka pemerkosaan dan pembunuhan tersebut, yakni Rakhmat Arifin alias Alif, 24 tahun, Imam Hapriadi (20), dan siswa sekolah menengah pertama berinisial RA (15).

Eno Parihah dikenal sebagai sosok yang pendiam dan pemalu. Kakak Eno, Dita, mengatakan jika adiknya tersebut tidak pernah menceritakan masalah pribadinya kepada keluarga.

“Kalau di rumah tidak pernah ngobrol. Dia paling tidur, terus main sama temannya. Dia orangnya sangat pendiam,” kata Dita.

Teman satu mes Eno, Marifha, membenarkan jika Eno sangat pendiam dan tertutup. Menurut dia, Eno yang baru bekerja satu bulan. Sejak kenal Eno, Marifha mengaku jarang melihat dia bicara dan hanya tersenyum jika berpapasan dengan karyawan lain. “Dia pendiam banget,” katanya.

Ads
Eno ditemukan tewas di mes karyawan PT Poly Global Mandiri, Desa Jati Mulia, Kosambi, Kabupaten Tangerang, pada Jumat, 13 Mei 2016. Polisi menetapkan tiga orang tersangka atas kasus pemerkosaan dan pembunuhan tersebut, yakni Rakhmat Arifin alias Alif, 24 tahun, Imam Hapriadi (20), dan siswa SMP berinisial RA.

Berdasarkan hasil rekonstruksi kepolisian, kejadian itu bermula saat Eno berkenalan dengan RA. Mereka saling bertukar nomor handpone dan berkomunkasi secara intens. Paka Kamis malam sekitar pukul 21.30 WIB, 12 Mei 2016, mereka janjian bertemu di kamar Eno.

Pengacara tersangka, Teddy, mengatakan RA dan Eno sudah berkenalan sekitar satu bulan lalu. Mereka sudah tiga kali ketemuan. Karena usia Eno lebih tua, RA memanggil gadis itu dengan sebutan Teteh. Rumah RA memang dekat dengan mes karyawan, hanya berjarak sekitar 50 meter.

Hingga pada Kamis 12 Mei 2016, keduanya janjian untuk bertemu di mes karyawan PT Poly Global Mandiri, tempat Eno tinggal. "Mereka janjian melalui SMS (pesan pendek),"kata Teddy.  Dalam SMS itu, Eno memberi isyarat pintu pagar mes tidak dikunci. "Korban juga memberitahukan kalau pintu kamarnya terbuka, agar RA bisa langsung masuk,"kata Teddy.

Di kamar, Eno menyambut RA dengan celana pendek dan baju tanpa lengan. Setelah ngobrol sekitar 20 menit, mereka bercumbu. "Tapi ketika sudah memuncak, korban justru menutup celananya dan menolak berhubungan intim, takut hamil," kata Teddy.

RA marah dan kesal. Ia keluar mes dan merokok di pinggir jalan. Saat itulah RA dihampiri Rahmat Arifin, rekan kerja Eno yang tinggal di mes pria. Tak lama kemudian, muncul Imam Hapriadi mengendarai sepeda motor, dan ikut terlibat dalam percakapan. Mereka mendatangi kamar Eno melakukan tindakan sadis dan kekerasan seksual yang ekstrim.***
Editor : hasan basril
Sumber : tempo.co
Kategori : SerbaSerbi
www www