Home >  Artikel >  SerbaSerbi

Nilai UN SMP Turun, Mendikbud Anggap Positif, Ini Alasannya

Nilai UN SMP Turun, Mendikbud Anggap Positif, Ini Alasannya
Mendikbud Anies Baswedan
Sabtu, 11 Juni 2016 07:00 WIB
JAKARTA- Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Anies Baswedan mengatakan hasil Ujian Nasional (UN) Sekolah Menengah Pertama 2016 menurun, namun nilai Indeks Integritas Ujian Nasional (IIUN) mengalami kenaikan.

"IIUN menjadi faktor kenyataan, kredibilitasnya benar-benar diwakili angka IIUN," ujar Anies di Kantor Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Jakarta, Jumat, 10 Juni 2016.

Dia memaparkan nilai UN mengalami penurunan hingga empat poin dari 2015. Nilai rata-rata nasional UN 2016 untuk SMP sebesar 58,57, untuk Madrasah Tsanawiah (MTs) sebesar 59,06, dan SMP Terbuka sebesar 48,36 persen. Ini menunjukkan 42 persen siswa belum mencapai standar yang ditetapkan yaitu nilai 55.

Namun, melihat hasil IIUN, 44 persen SMP/MTs memiliki nilai IIUN atau kejujuran siswa dalam mengerjakan soal lebih besar dari nilai 80. Hal itu dinilai ada peningkatan karena pada  2015 hanya 23 persen siswa nasional yang nilai kejujurannya diatas 80.

Ads
Anies menganggap hal ini perkembangan positif. Menurutnya integritas siswa meningkat menandakan kecurangan berkurang, baik  kecurangan sistematik maupun  siswa per siswa. "Ada percaya diri anak SMP yang lebih tinggi pada jawabannya daripada jawaban orang lain," ujar dia.

Data juga menunjukkan 72 persen sekolah mengalami peningkatan nilai kejujuran. Sekolah yang pada 2015 memiliki nilai kejujuran rendah, seiring mengikuti Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) nilainya juga menurun. Hal tersebut menunjukkan UNBK meningkatkan kejujuran ujian. "Terbukti IIUN dapat mengukur tingkat kejujuran dalam pelaksanaan UN."

Anies menambahkan mengukur kejujuran sulit, namun yang jauh lebih mudah adalah mengukur kecurangan. Dia menjelaskan metode pengukuran dengan menghitung persentase anak melakukan kecurangan dalam ujian. Misalnya, dia memberi contoh, ada 25 persen kecurangan dapat diketahui dari jawaban yang diberikan. Dan setelah itu ada pengukuran yang sudah diuji pakar dan telah diterapkan di duina. "Ini prestasi luar biasa, anak-anak kita ternyata bisa," kata Anies.

Dengan begitu, menurut dia, kejujuran sebagai norma utama telah diikuti. Ke depannya, dia mengatakan, integritas siswa yang lebih dibangun, terutama sebagai karakter. "Di banyak tempat pemberian IIUN mendapat upacara dari bupati dan wali kota. Perbincangannya adalah bukan siapa UN tertinggi tapi siapa IIUN tertinggi," kata Anies.***
Editor : sanbas
Sumber : tempo.co
Kategori : SerbaSerbi
www www