Home >  Artikel >  SerbaSerbi

Muhammad Ali, Mualaf yang Gigih Membela Islam Hingga Akhir Hayatnya

Muhammad Ali, Mualaf yang Gigih Membela Islam Hingga Akhir Hayatnya
Legenda tinju kelas berat, Muhammad Ali, saat mengkanvaskan mantan juara dunia kelas berat, Sonny Liston, dalam duel bersejarah pada 25 Mei 1965. (kompas.com)
Sabtu, 04 Juni 2016 12:48 WIB
PHOENIX - Petinju legendaris dan pejuang hak asasi manusia, Muhammad Ali, meninggal pada usia 74 tahun di Phoenix, Arizona, karena komplikasi saluran pernafasan. Sampai akhir hayatnya, petinju terbaik sepanjang masa ini membela agama yang menjadi keyakinannya.

Ali telah menderita Penyakit Parkinson selama 32 tahun, suatu kondisi neurologis yang menggerogotinya secara fisik dan mental.

Walau kesehatannya terus merosot, NBC News melaporkan kalau Ali tak pernah menahan diri untuk berbicara soal politik dan kontroversi.

Pada bulan Desember silam, ia mengkritik keras proposal calon presiden Amerika Serikat dari Partai Republik, Donald Trump, untuk melarang umat Muslim memasuki Amerika Serikat.

Ads
"Kami sebagai warga Muslim harus berdiri menghadapi pihak yang memakai Islam untuk mengedepankan agenda pribadi mereka," tuturnya.

Pernyataan ini merupakan bagian dari pilar pendirian Ali yang meroket pada awal 1960-an.

Sebagai juara dunia kelas berat waktu itu, ia berpindah agama ke Islam dan menolak wajib militer ke Perang Vietnam.

Media AS menggambarkannya sebagai "perwujudan, kekuatan, keeleganan, hati nurani, dan keberanian. Ali adalah simbol anti kemapanan yang menembus batas-batas ras dan agama. Pertarungannya melawan manusia lain menjadi tontonan, tapi ia adalah perwujudan pertarungan lebih besar lagi."

Muhammad Ali terlahir sebagai Cassius Clay pada 17 Januari 194 di Louisville, Kentucky. Ia memulai bertinju pada usia 12 tahun dan memenangi emas di kelas light heavyweight pada Olimpiade 1960 di Roma.

Sejak usia awal, Ali telah bereaksi keras terhadap rasisme di Amerika Serikat. Ia melempar ke sungai medali Olimpiade yang ia menangkan dengan susah payah tersebut setelah seorang penjual soda menolak melayaninya.

Salah satu pertarungan tinju paling ikonik terjadi pada akhir Mei 1965 saat ia melawan Sonny Liston.

Pada pertarungan tersebut, ia mengucapkan beberapa kata paling terkenalnya, "float like a butterfly, sting like a bee!"

Setelah mengalahkan Liston dengan knock-out dalam enam ronde, Ali mengatakan bahwa dirinya adalah "yang terhebat! Saya yang terhebat! Saya raja dunia!"

Ali sempat menikah tiga kali dan menjadi ayah untuk sembilan anak. Ia menikahi istri terakhirnya, Yolanda Williams pada 1986. ***
Editor : sanbas
Sumber : kompas.com
Kategori : SerbaSerbi
www www